kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.945
  • EMAS704.000 -1,40%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Bom waktu defisit migas


Kamis, 11 Juli 2019 / 14:19 WIB

Bom waktu defisit migas

Lebaran kemarin penulis hampir tidak menjumpai warga yang mengayuh sepeda di desa asal penulis. Paman saya yang tahun lalu masih memakai sepeda ontel, sekarang sudah mengendarai sepeda motor bekas. Melihat fenomena itu saya berharap harga minyak dunia tidak naik di tengah tensi geoekonomi politik dunia yang berubah cepat.

Harapan saya didasari pada defisit neraca migas Indonesia yang makin melebar, konsumsi jenis BBM yang terus meningkat dan lifting minyak dalam negeri yang jauh panggang dari api. Pasca 2000, sejarah defisit migas mulai tercatat pada kuartal II-2011 sebesar US$ 1,39 miliar yang didahului dengan defisit minyak bumi (net importir) sejak tahun 2002. Lebih lanjut, angka tertinggi defisit migas sejak 2011 terjadi pada kuartal III-2018 dengan besaran defisit sebesar US$ 3,5 miliar. Terbaru, neraca perdagangan migas Mei 2019 menunjukkan defisit migas US$ 77 juta.

Fakta di atas menunjukkan ketangguhan gas dalam membendung defisit minyak dan gas hanya bertahan sembilan tahun. Neraca migas untuk gas saat ini masih surplus. Pada Januari-Mei 2019, perdagangan gas surplus US$ 3,07 miliar sedangkan minyak mentah dan hasil olahan minyak defisit US$ 6,81 miliar.

Kombinasi ini mencatatkan defisit neraca migas US$ 3,74 miliar. Apabila dalam empat tahun ke depan tidak ada eksplorasi gas baru, pada 2022 Indonesia akan menjadi negara net importir gas. Ini sejalan dengan pengembangan gas di Indonesia dalam Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) yang menetapkan porsi minyak dan gas hingga 2050 masih berkontribusi 44% dari total energi nasional.

Defisit tersebut sejalan dengan rata-rata kuartalan pertumbuhan ekspor migas 2011- kuartal I-2019 yang lebih kecil dibandingkan dengan impor. Secara kuartalan, rata-rata ekspor migas tumbuh -3,06% sedangkan impor tumbuh 3,64%. Tingginya impor disebabkan produksi migas yang stagnan.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan akhir Maret 2019 lifting minyak hanya 706.600 barel per hari. Target asumsi APBN 2019 sebesar 720.400 barel per hari. Di sisi lain, kebutuhan minyak Indonesia 1,5 juta barel per hari.

Defisit migas tersebut bisa merepotkan pemerintah jika harga minyak dunia meningkat. Kenaikan harga minyak mentah dunia berimplikasi pada kenaikan harga BBM domestik. Ujungnya inflasi yang bisa menggerus pertumbuhan ekonomi tidak terhindarkan. Tanda kenaikan harga minyak sudah mulai kentara.

Per 21 Juni 2019, harga minyak mentah dunia untuk jenis brent ditutup dengan harga US$ 65,2 per barel untuk pengiriman bulan Agustus 2019. Level harga ini sudah meningkat 6,3% sejak awal Juni 2019 yang berada pada level US$ 61,28 per barel. Sedangkan perdagangan minyak WTI ditutup dengan level harga US$ 57,4 per barel dengan kontrak pengiriman Agustus 2019. Level harga ini sudah meningkat 7,8% sejak awal Juni 2019 yang berada pada level US$ 53,25 per barel.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0509 || diagnostic_web = 0.3312

Close [X]
×