kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Bukalapak dan kinerja industri e-commerce


Senin, 23 September 2019 / 09:51 WIB

Bukalapak dan kinerja industri e-commerce

Publik baru-baru ini dikejutkan dengan polemik pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan Bukalapak. Dikabarkan, jumlah karyawan yang terkena PHK ada 100 orang dari total 2.600 orang. Meski relatif kecil, nyatanya kabar tersebut cukup intens menyita perhatian masyarakat. Predikat unicorn yang disandang Bukalapak, dan isu keuangan yang sedang mendera sejumlah korporasi besar nasional disinyalir sebagai pemicunya.

Manajemen Bukalapak menegaskan, bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai upaya restrukturisasi untuk menjamin visi bertumbuh sebagai e-commerce unicorn pertama yang meraup keuntungan. Meskipun merugi, manajemen mengungkapkan, bahwa penjualan paruh pertama tahun ini mencapai US$ 5 miliar, setara Rp 71,2 triliun. Laba bruto per bulan tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan posisi Desember 2018 lalu.

Peristiwa ini menjadi diskusi hangat kalangan analis dan ekonom. Apakah ini menjadi indikasi berakhirnya masa keemasan (sunset economy) usaha rintisan e-commerce? Ada empat poin menjawab pertanyaan ini.

Pertama, kerugian yang diderita oleh usaha rintisan bahkan sekaliber unicorn merupakan hal biasa. Sudah menjadi rahasia umum, praktik bakar uang menjadi penyebab utama sebagian besar usaha rintisan masih merugi.

Dalam implementasinya, manajemen usaha rintisan memiliki tendensi untuk selalu berfokus mengejar nilai penjualan (gross merchandise value/GMV) setinggi-tingginya. Semakin besar GMV, semakin besar pula valuasi usaha rintisan. Tidak mengherankan, aliran pendanaan yang diterima usaha rintisan akan semakin deras mengikuti besarnya valuasi.

Konsekuensi logis dari pendekatan ini ialah lahirnya praktik bakar uang. Tatkala usaha rintisan masih fase awal dan berkembang, biaya akuisisi pelanggan lewat subsidi harga maupun promosi secara masif menjadi hal yang lumrah dijumpai.

Bermodalkan dukungan pendanaan melimpah dari investor, perolehan laba pada fase ini tidak lagi jadi nomor satu selama GMV terus meningkat. Sepanjang aktivitas fundraising berjalan lancar, praktik bakar uang masih terus berlangsung.

Kedua, implikasi dari poin pertama di atas adalah strategi efisiensi biaya oleh usaha rintisan boleh jadi mengindikasikan ada potensi penurunan aliran pendanaan dalam jangka pendek menengah. Apakah ini merupakan pertanda negatif? Belum tentu. Bisa negatif jika manajemen masih bergantung suntikan dana investor, terutama ketika situasi global masih kurang bersahabat seperti saat ini.

Sebagai gambaran, Cento Ventures menyebutkan, total pendanaan yang diraih perusahaan teknologi di Asia Tenggara pada semester I-2019 mencapai US$ 5,99 miliar. Angka ini turun 28% dibanding semester I-2018 yang mencapai US$ 8,31 miliar. Secara historis, indikasi perlambatan pertumbuhan pendanaan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak semester II-2018. Perang dagang dan ancaman resesi dunia diduga sebagai latar belakangnya.

Sisi lain, kondisi ini juga bisa bermakna netral, bila manajemen usaha rintisan sudah mengambil ancang-ancang skenario alternatif. Misalnya, pendanaan lewat penerbitan saham di pasar modal. Dalam konteks Bukalapak, opsi tersebut relevan dengan ambisi manajemen untuk mulai mencetak laba.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×