kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bukalapak dan kinerja industri e-commerce


Senin, 23 September 2019 / 09:51 WIB
Bukalapak dan kinerja industri e-commerce

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Masih terlalu dini

Ketiga, strategi efisiensi biaya melalui kebijakan PHK karyawan oleh usaha rintisan sekelas unicorn bukanlah hal tabu, dan tidak selalu berkonotasi negatif. Berkaca pada pengalaman negara lain, sudah ada beberapa usaha rintisan raksasa yang mengambil langkah serupa dengan objektif serupa Bukalapak.

Uber merumahkan 400 karyawan setelah merilis laporan keuangan kuartal II-2019 yang mencatat kerugian US$ 5,2 miliar. WeWork dan SpaceX juga dilaporkan melakukan PHK, masing-masing 300 orang dan 600 orang awal tahun ini. Apakah hal ini bisa menjustifikasi bahwa industri digital di Amerika Serikat sedang mengalami masa suram? Tentu tidak.

Keempat, pada tataran pragmatis opini tentang dimulainya periode sunset economy di industri e-commerce bisa saja valid. Syaratnya, mayoritas pelaku e-commerce domestik mulai menempuh upaya seperti Bukalapak. Faktanya sinyalemen ini masih belum terlihat.

Selain itu, hasil riset iPrice mengenai peta persaingan e-commerce di Indonesia pada kuartal II-2019 menunjukkan, Bukalapak menempati peringkat ketiga e-commerce dengan jumlah pengunjung tertinggi, yakni 89,77 juta. Posisi Bukalapak masih di bawah Tokopedia (140,41 juta) dan Shopee (90,71 juta). Dengan asumsi jumlah pengunjung berbanding lurus dengan nilai dan volume transaksi, maka kejadian di Bukalapak belum bisa merefleksikan kondisi industri e-commerce di Indonesia secara keseluruhan.

Bertolak dari keempat argumen tersebut, sejatinya aksi korporasi Bukalapak hanyalah strategi internal perusahaan. Alih-alih hanya memotret data keuangan dan kebijakan tidak populis oleh satu usaha rintisan, dibutuhkan lebih banyak variabel lain sebagai leading indicator sebagai bahan analisis. Misalnya, nilai dan volume transaksi industri e-commerce serta jumlah pendanaan investor asing dan domestik ke pelaku usaha rintisan.

Dalih tersebut sekaligus menegaskan diskursus lain yang sedang berkembang. Fenomena PHK karyawan Bukalapak disebut sebagai representasi tekanan berat sektor e-commerce akibat lesunya konsumsi rumah tangga. Benarkah demikian?

Ditinjau dari perspektif makro ekonomi, sektor perdagangan elektronik diyakini tetap mampu melejit di tengah stagnasi konsumsi yang tumbuh di kisaran 5%. Bank Indonesia (BI) mencatat, total transaksi e-commerce di Indonesia pada 2018 mencapai Rp 77 triliun naik 151% dibandingkan tahun sebelumnya.

Patut disadari, penurunan daya beli konsumen yang seringkali dikaitkan dengan penutupan toko ritel konvensional terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Sisi lain, sebagian besar pengguna e-commerce justru berasal dari kaum urban kelas menengah berusia produktif. Bonus demografi, leisure economy, dan perluasan jaringan internet hingga pelosok desa akan jadi motor penggerak industri ini dalam jangka panjang.

Memang, masih terlalu dini untuk langsung menyimpulkan baik buruknya kinerja industri e-commerce saat ini. Namun, mencermati situasi global yang terjadi, pelaku usaha rintisan diharapkan lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi faktor risiko. Praktik bakar uang secara masif seyogianya dievaluasi kembali demi menumbuhkan kompetisi yang sehat dalam industri.♦

Remon Samora
Analis Bank Indonesia




TERBARU

Close [X]
×