kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45923,20   2,42   0.26%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Bukan Cuma Afirmasi

oleh Hasbi Maulana - Managing Editor


Kamis, 12 November 2020 / 14:29 WIB
Bukan Cuma Afirmasi
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Gubernur Bank Indonesia (BI) menyebut, salah satu kunci menuju pertumbuhan ekonomi yang berdaya tahan panjang bahkan hingga satu dekade ke depan adalah sikap optimisme. Dan, Perry Warjiyo optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 yang berakhir satu setengah bulan lagi akan positif.

Setelah selama dua kuartal Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sehingga "resmi" menyandang status resesi ekonomi, optimisme seorang gubernur bank sentral jelas tidak bisa dianggap angin lalu. Pernyataannya tentu ditopang oleh data-data yang sahih dan akurat, berikut hasil analisis matang para ekonom di lembaga otoritas moneter tersebut.

Tak main-main, Perry bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa balik mencapai 5% lagi. Bukan hanya itu, Gubernur Bank Indonesia ini juga menyebut bahwa lima tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengarah ke angka 6%.

Baiklah, mari kita pegang dan amini optimisme tersebut agar benar-benar terwujud. Harapan pertumbuhan ekonomi yang positif di masa pandemi yang melumpuhkan hampir segenap sendi ekonomi seperti sekarang ibarat segelas es perasan jeruk segar di tengah panas terik siang bolong: menyejukkan.

Namun, perlu diingat, kacamata seorang Gubernur BI adalah kacamata makro. Di tingkat mikro, baik level perusahaan maupun rumah tangga, sikap optimisme Perry tidak bisa dianggap jampi-jampi yang secara ajaib melumasi roda ekonomi kita agar bergulir lancar kembali.

Apakah ketika ekonomi pulih dan Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi 5% atau 6%, bisnis kita masih eksis dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional itu? Apakah ekonomi rumah tangga kita juga mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut?

Beberapa hari lalu ada perusahaan waralaba kuliner multinasional yang berkampanye secara tak lazim di media sosial: mempromosikan pula produk para kompetitor. Khalayak menangkap kesan dunia bisnis benar-benar dalam masa yang sulit sehingga persaingan seolah tidak relevan lagi untuk ditonjolkan.

Semoga kampanye tersebut sekadar gimmick marketing biasa, bukan cerminan kondisi riil dunia usaha kuliner maupun dunia usaha pada umumnya pada saat ini.

Sebaliknya, semoga optimisme Gubernur BI bukan sekadar kalimat afirmasi ala motivator pendongkrak semangat masyarakat yang tengah merindukan kabar pelipur lara.

Penulis : Hasbi Maulana

Managing Editor




TERBARU
Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×