kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bulan Banjir Untung di BEI?

oleh Roy Sembel - Profesor di IPMI International Business School


Senin, 06 Januari 2020 / 12:06 WIB
Bulan Banjir Untung di BEI?
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Alih tahun 2019/2020, musim hujan mulai menampakkan tajinya di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Jabodetabek. Alhasil, banjir melanda banyak lokasi di Jakarta dan sekitarnya.

Sampai waktu tulisan ini dibuat di awal tahun 2020, masih banyak penduduk Jakarta terpaksa mengungsi karena terdampak banjir. Kita bersimpati dan berempati bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir. Semoga saudara-saudara kita cepat mendapatkan pertolongan dan bisa segera kembali aman ke rumah masing-masing.

Musim hujan dan pengalaman banjir memang bukan fenomena baru bagi penduduk Jakarta dan sekitarnya. Pola musiman dalam curah hujan sudah terpetakan selama berabad-abad. Sejak SD dan SMP, penulis diajarkan dalam pelajaran geografi bahwa untuk Indonesia, periode Oktober-Maret merupakan musim hujan, dan April-September adalah musim kemarau. Belajar dari pola-pola yang telah terekam sejak lama itu, seyogyanya kita semua mempersiapkan diri untuk menghadapi musim-musim tersebut.

Artikel ini bukan tentang musim hujan atau dampaknya terhadap banjir atau kekeringan, melainkan tentang return (imbal hasil) bulanan investasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lantas apa hubungannya dengan musim hujan dan banjir? Jawabannya adalah ada analogi tentang pola historis yang telah terekam.

Ada bulan-bulan saat return investasi saham di BEI cenderung tinggi dan rendah. Pola ini telah diteliti oleh beberapa peneliti pasar modal dan menjadi bahan disertasi, tesis, dan skripsi dari beberapa mahasiswa bimbingan penulis di beberapa perguruan tinggi.

Penelitian terakhir dengan menggunakan data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilakukan oleh Markov Cornelius Kelvin (2019), mahasiswa IPMI International Business School (Sekolah Tinggi Manajemen IPMI) di bawah bimbingan penulis. Sebagai catatan, IHSG adalah indikator naik turunnya keseluruhan saham perusahaan yang tercatat di BEI. Ringkasnya, jika IHSG naik (turun), maka rata-rata investor saham di BEI meraih (menderita) untung (rugi).

SIMAGA, SIABIN, TOTY

Dalam literatur riset pola return bulanan, ada hasil penelitian yang menarik. Bouman & Jacobsen (2002) dilanjutkan oleh Andrade, Chhaochharia, & Fuerst (2013), menemukan bahwa return pasar saham pada periode enam bulan Mei-Oktober cenderung rendah dibandingkan periode enam bulan November-April di lebih dari 35 negara.

Menggunakan hasil penelitian tersebut, investor di bursa saham seharusnya keluar dari bursa akhir bulan April dan menempatkan uangnya di deposito bank, kemudian mencairkan depositonya dan kembali masuk bursa saham pada akhir Oktober. Pola itu terkenal dengan julukan Sell-In-May-And-Go-Away (SIMAGA) Effect.

Apakah strategi investasi itu (SIMAGA) berlaku untuk pasar saham Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, Markov menggunakan data IHSG dengan periode lebih dari 35 tahun, yaitu 1983-2018. Hasilnya, Markov menemukan ada strategi yang memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan strategi SIMAGA, yaitu strategi Sell-In-August-And-Buy-In-November (SIABIN). Hasil lengkapnya bisa dilihat pada dokumentasi riset di Perpustakaan IPMI.

Artikel kita kali ini lebih berfokus pada pola alih tahun (Desember-Januari). Pola ini dalam literatur riset terkenal dengan nama Turn-Of-The-Year (TOTY) Effect. Penulis menggunakan data IHSG 1984-2019. Berdasarkan data, rata-rata return bulanan untuk bulan Januari dan Desember adalah 4,44%, jauh di atas rata-rata return bulanan bulan selain itu (Februari sampai dengan November) yaitu 0,73%.

Tambahan pula, risiko terjadinya return negatif pada bulan Januari dan Desember relatif kecil, yaitu 23,61%, dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, yaitu 45,56%. Berdasarkan hasil penelusuran data historis tersebut, TOTY Effect memang terjadi di BEI.

Berdasarkan data tersebut, memang terjadi banjir untung bagi investor saham di BEI pada periode alih tahun (Desember-Januari). Jadi, secara rata-rata memang bagus bagi investor untuk berinvestasi saham di BEI dengan mulai membeli di bulan November untuk memanfaatkan TOTY Effect tersebut.

Bagaimana dengan bulan Januari? Masih ada sisa banjir untungkah? Beberapa peneliti berfokus lebih spesifik pada January Effect. Berdasarkan data IHSG 1984-2019 yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber, rata-rata return bulan Januari adalah 2,51%. Angka ini meski lebih dari 3 kali lipat rata-rata bulan Feburari-November) masih lebih rendah dibanding rata-rata TOTY (4,44%), karena rata-rata return bulan Desember yang relatif tinggi (6,37%). Kendati begitu, masih ada peluang untung berinvestasi memanfaatkan sisa-sisa banjir untung dari TOTY. Peluang meraih return positif di Bulan Januari adalah 25 dari 36 tahun terakhir (1984-2019) atau 69,44%. Peluang ini masih jauh lebih baik dibandingkan judi 50-50 lempar koin. 

Sebagaimana kita bisa belajar dari pola musim hujan dan banjir, kita mungkin bisa belajar dari pola masa lalu pergerakan IHSG di BEI untuk meningkatkan peluang berhasil dalam berinvestasi.

Risiko investasi selalu ada, namun dengan persiapan yang cukup matang, risiko bisa dikurangi dan peluang berhasil bisa ditingkatkan. Selamat mencoba strategi investasi berdasarkan pola historis ini, namun tentu saja risiko tanggung sendiri ya.

Penulis : Roy Sembel

Profesor di IPMI International Business School




TERBARU

Close [X]
×