kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.450
  • EMAS665.000 -0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

BUMN dan ketahanan energi nasional

Selasa, 14 Agustus 2018 / 15:01 WIB

BUMN dan ketahanan energi nasional

Sejauh ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berada di barisan terdepan dalam upaya mewujudkan ketahanan energi nasional. Upaya memperluas akses masyarakat terhadap energi listrik dilaksanakan oleh PLN. Sedangkan Pertamina mengemban tugas menyediakan dan melayani kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan gas bumi, termasuk elpiji, di seluruh Indonesia dengan satu harga.

Berdasarkan regulasi yang menjadi dasar pembentukannya, sejak awal salah satu tugas Pertamina adalah menciptakan ketahanan nasional, khususnya ketahanan energi. Tugas itu tercantum dalam ketentuan Undang-Undang (UU) Nomor 8/1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara. Pasal 5 UU tersebut menetapkan tujuan perusahaan adalah membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dalam arti seluas-luasnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan negara dan menciptakan ketahanan nasional.

Dalam perkembangannya, BUMN Migas tersebut tidak hanya menjalankan fungsi sebagai korporasi, tetapi melaksanakan tugas yang lebih luas, sebagai agen pembangunan. Sebagian besar infrastruktur dasar strategis nasional, baik yang terkait dengan sektor energi maupun tidak, tercatat dibangun dari hasil pengusahaan migas, utamanya oleh Pertamina.

Pada periode awal pelaksanaan pembangunan, kontribusi sektor minyak dan gas terhadap penerimaan APBN dan ekspor Indonesia sangat signifikan. Pada Pelita III, penerimaan dari sektor migas tercatat sekitar 62,88% dari total penerimaan negara dan hibah. Sementara, nilai ekspor migas pada periode yang sama sekitar 82% dari total ekspor Indonesia.

Kontribusi sektor migas khususnya minyak terhadap penerimaan APBN yang sangat signifikan pada periode awal pelaksanaan pembangunan disebabkan neraca minyak Indonesia saat itu dalam kondisi yang surplus. Berdasarkan data, selama Pelita III, rata-rata produksi minyak Indonesia sekitar 1,5 juta barel per hari. Sedangkan, konsumsi minyak Indonesia rata-rata sekitar 400.000 barel per hari.

Berdasarkan kondisi neraca minyak itu, terdapat kelebihan produksi minyak sekitar 1,1 juta barel per hari atau 401 juta barel per tahun yang saat itu dapat diekspor Indonesia. Hasil ekspor minyak tersebut sebagian digunakan untuk membangun infrastruktur dasar seperti sekolah, rumah sakit, jalan raya, pembangkit listrik, bandara, dan saluran irigasi. Kehadiran industri strategis seperti industri baja, industri pupuk dan petrokimia, industri semen, dan industri pesawat terbang juga tidak dapat dilepaskan dari peran sektor minyak dan gas.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0527 || diagnostic_web = 0.3313

Close [X]
×