Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.140
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Cara memilih makanan dalam parsel

Sabtu, 01 Juni 2019 / 09:55 WIB

 Cara memilih makanan dalam parsel

Pengiriman makanan dalam parsel menjelang Lebaran meningkat secara signifikan. Meski awalnya parsel semata alat silahturahmi, kini bermetamorfosa sebagai instrumen untuk pelicin bisnis. Bahkan, isinya pun mulai beragam tidak saja produk makanan tetapi juga peralatan rumah tangga, buku, batu akik, hingga mainan anak-anak. Bisnis yang satu ini pun mendatangkan untung besar bagi pengelolanya.

Di sisi lain, parsel yang kerap berisi produk makanan menyimpan segumpal bahaya. Produk pangan kemasan kaleng misalnya bisa saja tidak memenuhi persyaratan untuk dikonsumsi karena sudah lewat masa simpannya.

Saat masyarakat yang kini sedang mengalami krisis kepercayaan, kebohongan publik mudah dilakukan. Makanan kaleng kedaluwarsa dengan gampang tanpa beban moral dijadikan bagian dari parsel. Dari perspektif keamanan pangan, makanan kedaluwarsa bisa menimbulkan keracunan yang acap mengancam jiwa manusia yang mengonsumsinya.

Makanan olahan pabrikasi yang sudah tak layak dikonsumsi sering ditemukan dan kejadiannya bisa berulang, mengingat makanan kemasan kedaluwarsa masih kerap beredar di pasar. Seperti berita di sejumlah media belakangan ini, operasi keamanan pangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Ketahanan Pangan di sejumlah daerah menemukan makanan kemasan yang sudah tak layak dikonsumsi.

Makanan kaleng yang kemasannya telah rusak dan kedaluwarsa atau berkarat, penyok, dan berlubang di antaranya sarden dan koktail ditempatkan di rak-rak penjualan di pasar swalayan, bersama dengan makanan kaleng yang kondisinya masih baik dan belum kedaluwarsa.

Sekadar menyebut contoh, hasil intensifikasi pengawasan produk pangan oleh BPOM beberapa tahun lalu yang menemukan 36.207 kemasan pangan tak memenuhi ketentuan. Beragam produk itu terdiri dari pangan ilegal 18.701 kemasan, pangan kedaluwarsa 15.707 kemasan, dan pangan rusak 1.799 kemasan dengan nilai total lebih dari Rp 1,5 miliar. Kejadian yang sama bisa terulang kembali mengingat makanan adalah kebutuhan primer masyarakat.

Dari pengawasan peredaran parsel yang dilakukan BPOM setiap tahun menemukan ratusan bahkan ribuan produk mengalami kerusakan mulai dari produk melampaui batas kedaluwarsa, produk tidak terdaftar hingga tidak memenuhi syarat pelabelan. Keluhan klasik yang ditemukan dari konsumen adalah produk makanan dalam parsel sudah kedaluwarsa, rusak, tercemar dan tidak memenuhi persyaratan pengemasan.

Ironisnya, pihak penerima parsel kerap tak mau mengklaim jika memperoleh makanan kedaluwarsa karena tidak mengetahui ke mana harus mengadu atau rasa sungkan lainnya. Peluang seperti inilah yang dimanfaatkan pengusaha parsel, apalagi dipermudah dengan sistem teknologi komunikasi secara daring atau online yang makin baik, hanya dengan mengunggah di media sosial, berbagai model parsel sudah bisa dilihat dan dipilih konsumen. Tinggal klik dan bayar, sudah sampai ke tujuan sesuai pesanan.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0442 || diagnostic_web = 0.3158

Close [X]
×