kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Catatan Hari Jomblo


Selasa, 13 November 2018 / 11:32 WIB
Catatan Hari Jomblo


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Tri Adi

Latah. Satu kata ini mungkin bisa menggambarkan berjangkitnya demam Single's Day di Indonesia. Padahal sejatinya, program Single's Day ini bermula dari China. Namun, besarnya nilai transaksi yang berhasil dibukukan e-commerce China menjadikan program ini menjadi acuan para pelaku e-commerce Tanah Air untuk ikut serta meraup keuntungan. Tengok saja prestasi yang ditorehkan Alibaba Group, e-commerce yang menjadi inisiator pelaksanaan Single's Day di China. Selama 24 jam pelaksanaan festival belanja pada Minggu (11/11) lalu, Alibaba berhasil mencatatkan transaksi penjualan sebesar RMB 213,5 miliar. Nilai ini setara Rp 451 triliun!

Kemeriahan Single's Day pun turut dirasakan di Tanah Air. Menjelang 11.11, sejumlah situs belanja online menggelar promo besar-besaran untuk menarik minat masyarakat. Shopee menggelar kampanye bertajuk Shopee 11.11 Big Sale. Adapun Bukalapak menghadirkan promo bertajuk "November Epik". Promo-promo yang menggiurkan ini sukses menarik minat masyarakat. Menelusuri jejak media sosial sesaat sebelum dibukanya program ini, banyak sekali netizen yang mengungkapkan ketidaksabarannya untuk langsung membeli barang. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang rela begadang. Fenomena ini menandakan sudah banyak masyarakat Indonesia yang sudah melek belanja online di e-commerce.

Meski cukup semarak, pelaksanaan Single's Day masih memiliki sejumlah catatan. Sejumlah netizen mengeluhkan tentang sistem flash sale e-commerce yang tidak bisa diakses saat mereka ingin melakukan pembayaran. Ada juga yang mengeluhkan barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan foto.

Sesungguhnya, masyarakat Indonesia masih belajar dalam bertransaksi e-commerce. Itu sebabnya, masyarakat harus mengedukasi diri mereka agar tidak tertipu saat berbelanja online. Misalnya, konsumen jangan cepat percaya begitu saja dengan penawaran e-commerce. Penting bagi konsumen untuk memastikan terlebih dulu tempat pembelian barang. Sebaliknya, e-commerce juga harus menjaga kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, peran pemerintah untuk melindungi konsumen harus ditingkatkan. Jika perlindungan terhadap konsumen terjaga dengan baik, penjualan yang bisa dibukukan para pelaku e-commerce bisa melejit tinggi. Bukan hal yang tidak mungkin Indonesia bisa menjadi seperti China yang perekonomiannya mampu digerakkan oleh e-commerce.

Barratut Taqiyyah Rafie

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×