kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Coronomics

oleh Nofie Imam - Pengajar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM


Jumat, 20 Maret 2020 / 12:52 WIB
Coronomics
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Apa dan bagaimana virus Korona memberi dampak pada perekonomian rasanya sudah bukan lagi pertanyaan yang relevan untuk ditanyakan. Sudah waktunya kita beranjak untuk mengambil jarak dan melakukan refleksi. Misalnya, apa makna yang bisa kita petik dari peristiwa ini?.

John Maynard Keynes, ekonom paling berpengaruh di abad ke-20, pada tahun 1930 pernah menulis esai berjudul "Economic Possibilities for Our Grandchildren". Dalam esainya, Keynes meramalkan peningkatan standar hidup umat manusia yang substansial pada tahun 2030 ketika semua orang akan hidup dalam kondisi yang berkelimpahan. Ia percaya bahwa generasi masa depan akan terbebas dari kebutuhan untuk bekerja dan menabung. Mereka akan menghabiskan sebagian besar waktunya di waktu luang dan menemukan cara untuk menghabiskan hari dengan baik (pluck the hour and the day virtuously and well).

Pada tahun 1960-an, banyak orang percaya bahwa kebangkitan otomatisasi, robot, komputerisasi, energi atom, komunikasi, dan efisiensi akan meningkatkan produktivitas secara drastis sehingga teknologi akan menghilangkan hampir semua tenaga kerja manusia. Mereka melihat ramalan Keynes tampaknya akan benar-benar terwujud.

Sayangnya, mereka mengabaikan fakta bahwa pekerjaan ternyata justru membuat orang sibuk sehingga mereka tidak bosan sampai mereka mati. Faktanya, manusia modern saat ini bekerja lebih banyak dibanding periode sebelumnya, tidak kurang. Richard Schoch, sejarawan dari Queen's University Belfast, berpendapat kenyamanan membuat kita bosan dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Leisure bores us and we don't know what to do with it.

Selama ini kita sering bangun tidur sebelum matahari terbit, berangkat ke kantor, bekerja keras hingga 50 jam setiap pekannya, belum termasuk lembur di akhir pekan. Kita hanya punya sangat sedikit waktu di rumah bersama keluarga. Hidup menjadi stres dan pekerjaan juga seolah tak pernah berhenti.

Seperti yang diprediksi oleh Keynes 90 tahun lalu, kebutuhan material kita sebenarnya telah lama dipenuhi. Kebanyakan dari kita memiliki kapasitas sumber daya dan kemampuan teknologi untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan dan berkelimpahan. Jika ia masih ada saat ini, tentu ia akan berkata, "Welcome to the age of leisure and abundance!"

Namun, bertentangan dengan apa yang Keynes yakini, bagi sebagian besar dari kita, kekayaan ini belum diterjemahkan menjadi waktu luang. Seolah terbawa oleh momentum dan kemakmuran revolusi industri, sebagian besar masyarakat masih beroperasi di bawah ilusi bahwa semakin banyak, lebih besar, dan lebih cepat selalu berarti lebih baik.

Pada kenyataannya, produktivitas dapat berkembang tanpa batas, membuat pekerja lebih efisien dalam menghasilkan lebih banyak barang. Hal ini mendorong kita untuk bekerja lebih banyak setiap hari. Metode produksi modern telah memberi kita alat untuk memanfaatkan waktu kita, tetapi sifat kodrati manusia menunjukkan bahwa kita selalu berusaha untuk hidup melebihi kemampuan kita.

Jika kita bisa menghasilkan lebih banyak uang, kita akan menghabiskan lebih banyak uang lagi, membuat kita bekerja lebih keras lagi untuk mengumpulkan uang lebih banyak. Jika kita memiliki lebih banyak ruang penyimpanan, baik itu digital maupun fisik, maka kita akan menemukan lebih banyak hal lagi untuk disimpan. Ini adalah bagian dari sifat natural manusia yang sebaiknya kita terima begitu saja.

Awalnya kita semua mengira kemajuan dalam teknologi otomatisasi dan kecerdasan buatan akan mengantarkan kita pada era liburan dan kelimpahan (age of leisure and abundance). Revolusi robotik, untuk pertama kalinya akan membuat orang-orang bebas untuk melakukan apapun yang mereka inginkan, bukan apa yang harus mereka lakukan. Kita semua, menurut Keynes, hanya perlu bekerja 3 jam sehari atau 15 jam tiap pekan saja dan satu-satunya kekhawatiran yang kita miliki adalah bagaimana mengisi waktu luang kita.

Tak disangka, virus Korona merebak di akhir 2019. Ia menyebar dengan cepat dan tak butuh lama sampai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkannya sebagai pandemi global. Hingga 17 Maret 2020, tercatat 184.976 kasus Korona di 159 negara dengan jumlah kematian tak kurang dari 7.529 jiwa.

Akhirnya, kita semua diminta untuk mengurangi aktivitas sehari-hari dan melakukan pembatasan sosial (social distancing) guna meredam penyebaran virus. Selagi vaksin dan antivirus belum resmi ditemukan, kita dituntut untuk lebih memperhatikan kembali tubuh kita masing-masing agar sistem imun kita kuat.

Tanpa meremehkan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh korona, datangnya wabah ini seakan-akan ingin mengingatkan kita untuk berhenti berlari terlalu cepat dan lebih menghargai makna hidup

Ketika kemajuan teknologi semakin merasuki kehidupan pribadi kita, batas antara pekerjaan dan kesenangan menjadi begitu kabur. Kita mulai melihat betapa halusnya batas antara kelimpahan dan kelangkaan. Seperti halnya satu sapuan kuas dapat menjadi perbedaan antara karya agung (masterpiece) dan kekacauan (chaos). Satu gerakan yang salah, bisa menjadi pembeda antara menjadi budak teknologi atau tuan bagi teknologi.

Keynes mengatakan bahwa untuk dapat menyadari dan menikmati kelimpahan, seseorang harus dapat menghargai dan memaknai seni dari kehidupan itu sendiri. Menghargai kehidupan adalah seni yang sulit dilakukan karena kita telah dilatih begitu lama untuk bekerja keras namun tidak dilatih untuk benar-benar menghargainya.

Suka atau tidak, Korona memaksa kita untuk memikirkan ulang apa yang sejatinya kita prioritaskan dalam hidup. Apakah kita memprioritaskan akumulasi barang dan kekayaan yang membutuhkan kerja lebih lama?. Atau, apakah kita secara aktif memikirkan kembali titik bagi kita merasa cukup sehingga dapat mengambil kembali waktu, membatasi pekerjaan, dan menggunakan waktu luang dengan cara-cara yang lebih bermakna?

Keynes juga mewanti-wanti agar kita tidak melebih-lebihkan pentingnya masalah ekonomi, atau berkorban untuk keperluan lain yang seharusnya lebih penting dan lebih signifikan.

Ia menulis, "it will be those peoples, who can keep alive, and cultivate into a fuller perfection, the art of life itself and do not sell themselves for the means of life, who will be able to enjoy the abundance when it comes."

Tentu saja hal ini mungkin tidak bisa berlaku bagi semua orang. Mereka yang bergaji (maaf) rendah, pedagang kecil, asongan keliling, dan mereka yang harus hidup di jalanan mungkin tidak punya pilihan selain bekerja berjam-jam. Bagi mereka, kesenjangan pendapatan yang begitu tinggi membuat disinsentif untuk meluangkan waktu lebih lama karena kerugian (opportunity cost) yang ditimbulkannya sangat besar.

Penulis : Nofie Imam

Pengajar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM





Close [X]
×