kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

CPO dan perang dagang AS-Tiongkok


Selasa, 14 Mei 2019 / 15:11 WIB

CPO dan perang dagang AS-Tiongkok


Konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sepertinya belum akan reda. Ancam-mengancam kenaikan tarif impor masih belum terlihat titik temunya. Hal ini berarti ketidakpastian di pasar global masih akan menghantui sepanjang 2019.

Indonesia ternyata menjadi salah satu negara yang terdampak secara tidak langsung dari perang dagang tersebut. Salah satunya adalah pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) global.

Pada April 2018, Tiongkok menyatakan akan meningkatkan tarif impor 106 produk AS sebagai balasan dari ancaman serupa yang dilakukan AS sebelumnya. Salah satu barang yang akan mendapat kenaikan tarif adalah kacang kedelai. AS adalah pemasok kedelai terbesar kedua setelah Brasil bagi Tiongkok. Dinaikkannya tarif impor kedelai AS tentu akan membuat kedelai AS tidak kompetitif di pasar Tiongkok. Pada Juli 2019, Tiongkok mulai mengimplementasikan kenaikan tarif impor untuk produk-produk AS tersebut.

Kebijakan ini berdampak negatif pada impor kedelai Tiongkok yang berasal dari AS. Selama 2018, nilai impor itu menurun 49,3% (yoy) dan berlanjut pada 1Q19 yang tercatat masih menurun 80% (yoy). Penurunan pasar ekspor kedelai AS di Tiongkok menyebabkan stok kedelai AS melimpah di pasar global. Hal ini menjadi salah satu akibat tertekannya harga kedelai global sejak April 2018.

Lantas apa dampaknya bagi Indonesia? Kedelai adalah barang substitusi dari CPO, salah satu komoditas ekspor utama Indonesia. Menurunnya harga kedelai turut menekan harga CPO. Data Bloomberg menunjukkan rata-rata harga CPO selama 2018 hanya US$ 559 per ton atau menurun 13,6% (yoy).

Memburuknya hubungan AS dan Tiongkok belakangan ini pun turut menekan kembali harga CPO periode Januari-April 2019, dimana rata-rata hanya US$ 502 per ton atau turun 20,1% (yoy).

Rendahnya harga CPO akan menyebabkan penurunan nilai ekspor Indonesia yang berefek pada melebarnya defisit transaksi berjalan. Membesarnya defisit transaksi berjalan memberikan sinyal negatif bagi investor dan dapat mempengaruhi volatilitas rupiah. Harga CPO yang rendah juga akan menekan perekonomian jutaan masyarakat Indonesia yang bergantung pada perkebunan kelapa sawit.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0005 || diagnostic_web = 0.1602

Close [X]
×