kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Cuti bersama dan produktivitas dunia usaha


Jumat, 04 Mei 2018 / 15:18 WIB
Cuti bersama dan produktivitas dunia usaha

| Editor: Tri Adi

Boros dan konsumtif

Kita sepakat bahwa libur memang penting. Tapi, kalau hari libur terlalu banyak , ya tidak baik juga. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) termasuk pihak yang kurang setuju dengan penambahan jumlah cuti bersama Lebaran karena menilai dapat mengurangi produktivitas dan daya saing. Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, sebagaimana dikutip sejumlah media, menyatakan dengan tambahan cuti bersama tersebut, produktivitas pada sektor dunia usaha bisa ikut terhenti lama lantaran layanan publik dari pemerintah diliburkan saat cuti bersama.

Pada saat yang sama, penambahan libur Idul Fitri juga bakal menambah beban finansial pengusaha, khususnya mereka yang harus mengejar target produksi dan pesanan dari mitra bisnis di negara lain. Pasalnya, untuk mengejar target dan pesanan itu, pengusaha pasti meminta karyawannya untuk masuk kerja dengan hitungan lembur selama cuti bersama libur Idul Fitri, yang notabene bayarannya tentu akan lebih mahal.

Di sisi lain, libur Idul Fitri yang panjang cenderung mendorong masyarakat kita kian boros dan konsumtif. Realitanya, sepanjang libur Idul Fitri, kita mengeluarkan lebih banyak uang untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak atau kurang kita butuhkan. Tingkat konsumtivisme masyarakat yang tinggi menjelang dan selama Idul Fitri memang bagus untuk menggerakkan roda perekonomian. Namun, itu hanya temporer dan dampak positifnya hanya dirasakan oleh sebagian kalangan saja. Mudharatnya malah lebih banyak.

Selain mengerek inflasi, tingginya tingkat konsumsi masyarakat menjelang dan selama Idulfitri, umpamanya, selalu memicu meningkatnya produksi sampah. Amati saja jalur mudik, tempat-tempat wisata atau masing-masing rumahtangga selama liburan Lebaran, maka dapat dengan mudah kita saksikan melonjaknya produksi sampah hingga beberapa kali lipat. Belum lagi meningkatnya polusi suara dan polusi udara di jalanan -- yang dihasilkan dari aneka jenis kendaraan yang digunakan oleh mereka yang sedang mudik dan menikmati liburan Idul Fitri .

Tentu saja, upaya untuk menjadikan libur Idul Fitri hanya satu hari atau dua hari saja tidak bakal mudah, karena sejak lama kita telah dibiasakan menikmati libur Idul Fitri yang lebih panjang. Pasti banyak kalangan yang bakal berkeberatan, tidak setuju, bahkan melakukan protes keras apabila libur Lebaran dilangsungkan cukup hanya sehari atau dua hari saja. Namun, sesungguhnya ini perlu dilakukan apabila kita ingin menjadikan bangsa ini jauh lebih produktif, jauh lebih kompetitif dan juga tidak semakin boros dan konsumtif.



TERBARU
Terpopuler

[X]
×