kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dampak Korona ke Logistik & Transportasi

oleh Harya S. Dillon (Sekjen Masyarakat Tranportasi Indonesia), Ibrahim Kholilul Rohman (Kepala Samudera Research Initiative) -


Rabu, 18 Maret 2020 / 11:44 WIB
Dampak Korona ke Logistik & Transportasi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Merebaknya persebaran virus Korona (Covid-19) sampai dengan minggu kedua Maret 2020 ini menunjukkan bahwa tidak ada satu negara di dunia pun yang memiliki imunitas dalam pendemik global ini. Selain China, virus ini telah menyebar ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat (AS), dan termasuk Indonesia. Per Senin (16 Maret 2020), Indonesia sudah memiliki 134 kasus dan 5 kematian.

Saat virus korona baru memasuki fase awal, yakni ketika wabah masih melanda Wuhan dan China, dampak terhadap sektor logistik dan ekonomi secara umum sudah sangat terasa. Wuhan berada di jalur sungai Yangtze yang cukup sibuk dengan arus barang. Lebih dari 80% lalu lintas sungai China bergerak melalui Sungai Yangtze, yakni terdapat volume kargo sekitar 1,5 juta peti kemas dari Wuhan saja. Wilayah di sekitarnya merupakan pemasok komoditas-komoditas penting seperti batu bara, baja, minyak mentah, dan pupuk.

Implikasinya adalah, distorsi aktivitas perekonomian di kota ini saja sudah cukup mengganggu rantai pasok yang kemudian berpengaruh kepada perekonomian China. Selanjutnya dengan dominasi China yang sangat kuat dalam perekonomian global, dampaknya pada perekonomian dunia akan dengan sangat cepat terasa.

Sejak masuk menjadi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, pangsa global pengiriman peti kemas China tumbuh dari hanya 10% pada tahun 2003 menjadi 14% pada tahun 2019. Sedangkan porsi impor komoditas curah kering terhadap volume dunia melonjak dengan sangat tajam dari hanya 11% menjadi 34% pada periode yang sama. Komoditas curah kering adalah bahan baku yang digunakan dalam proses produksi selanjutnya mencakup biji-bijian, logam, dan energi. Dari keseluruhan komoditas curah kering tersebut, porsi China dalam pasar global sangat dominan. China mengimpor 20% bahan kimia, 18% gas, dan 16% minyak mentah pada tahun 2019. Bisa dipahami bahwa gejolak yang terjadi di China akan menimbulkan dampak hulu dan hilir dalam mata rantai produksi global.

Sektor transportasi adalah salah satu garda terdepan yang terimbas gejolak perekonomian ini. Penundaan dari berbagai aktivitas logistik dalam dua bulan terakhir telah mengurangi volume kargo peti kemas di pelabuhan regional China, termasuk Hong Kong dengan jumlah lebih dari 6 juta Twenty Equivalent Unit (TEUs). Akibatnya, sampai dengan pekan ketiga Januari, jumlah panggilan kapal (call) di pelabuhan-pelabuhan utama China turun sebesar 20%.

Kelesuan ini diperkirakan menggerus penerimaan perusahaan pelayaran peti kemas global dengan banyaknya pelayaran kosong (blank sailing) akibat ketiadaan kargo. Dengan asumsi penurunan kargo sebesar US$ 1,7 juta dan dengan tarif rata-rata US$ 1.000 per TEUS, kerugian perusahaan peti kemas global ditelaah berkisar US$ 1,7 miliar hingga kuartal pertama tahun 2020.

Parahnya lagi, kalaupun volume kargo mulai sedikit meningkat setelah Korona mereda di China, freight rate untuk jalur-jalur kontainer global umumnya turun dengan besaran cukup tajam. Penurunan sebesar 10%-15% hingga pekan ketiga bulan Februari 2020 ini terjadi terutama di jalur-jalur gemuk: China ke Eropa, China ke Mediterania, dan China ke AS. Pengusaha harus mengantisipasi dua hal: volume kargo yang semakin terbatas akibat keterlambatan pasokan dan biaya pengangkutan yang relatif turun di beberapa rute perdagangan dunia.

Indikator yang tergambar dari the Baltic Dry Index (BDI) juga menyiratkan kelesuan yang sama. BDI menjelaskan keseimbangan pasar antara permintaan dan pasokan komoditas curah. Indikator ini bisa digunakan untuk menjelaskan tingkat perekonomian global karena berperan sebagai proksi volume perdagangan batubara, nikel, bauksit dan logam lain. Komoditas-komoditas tersebut umumnya dikirim dengan dry-bulk cargo (jenis capesize, panamax dan supramax).

Semua indikator BDI yang dibuat berdasarkan jenis kapal yang beroperasi mengalami penurunan yang cukup drastis hingga di pekan ketiga Februari 2020. Temuan ini mengindikasikan sektor industri manufaktur global yang terus menurun. BDI untuk semua jenis kapal curah dan komoditas (composite) turun tajam sebesar 60% dari 1090 di akhir bulan Desember 2019 menjadi hanya 465 di minggu ketiga Februari 2020. Demikian pula BDI dirty tanker (minyak) dan clean tanker (Liquid Natural Gas/LNG) keduanya anjlok sebesar 45% dan 25%. Perlambatan ekonomi global benar-benar terlihat dengan semakin sedikitnya kargo curah yang diperdagangkan karena sebagian besar didorong oleh kelesuan di sektor manufaktur dan konstruksi.

Data empiris dari operasional Samudera Indonesia (SMDR) bisa dijadikan sebagai salah satu acuan kelesuan ini di tingkat nasional. Data selama bulan Januari dan Februari menunjukkan tren penurunan volume perdagangan. Angka sementara menunjukkan bahwa pelabuhan SMDR di Tanjung Priok mencatat penurunan 10% dari sisi volume kargo jika dihitung berdasarkan basis year-on-year (yoy) dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun 2019. Dari sisi operasional kapal, volume muatan keluar (outbound cargo) 17% lebih sedikit sementara volume muatan masuk (inbound cargo) 14% lebih sedikit hingga pekan keempat Januari 2020 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019.

Beberapa hal yang harus diantisipasi adalah pertama, mempersiapkan tertundanya rantai pasokan manufaktur dalam beberapa bulan mendatang. Kedua, sebagian kontrak perdagangan dari dan ke China dibatalkan atau ditangguhkan ke semester II-2020. Fenomena ini mempengaruhi permintaan dan penawaran komoditas mengingat besarnya porsi China sebagai produsen dan konsumen.

Penulis : Harya S.Dillon

Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia





Close [X]
×