kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Deja Vu Wabah Virus

oleh Barly Halim Noe - Managing Editor


Senin, 27 Januari 2020 / 11:35 WIB
Deja Vu Wabah Virus
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Doktor Robert Neville, seorang ilmuwan brilian dan Kolonel Angkatan Darat Amerika Serikat setiap hari berkata, "Kalau masih ada manusia di kota ini, keluarlah. Anda tidak sendirian." Dia menyerukan kalimat itu sembari mengitari New York dengan ditemani Sam, si anjing german sheperd. Tahun 2009, virus bernama krippin virus (KV) telah menyerang dunia lewat angin. Wabah ini pun menjadi bencana global. Sekitar 90% warga dunia berubah menjadi Dark Seeker; manusia mutan mirip vampir yang haus darah dan daging manusia serta takut sinar matahari. Dan Neville satu-satunya manusia normal yang tersisa di New York. Menyeramkan? Pastinya. Untunglah, kisah di atas hanya ada di film Im Legend yang diperankan Will Smith sebagai Neville.

Kisah ini perlu diangkat lagi karena relevan dengan situasi dunia saat ini yang sedang menghadapi serbuan mematikan virus baru bernama korona (2019-Ncov). Ini bak deja vu wabah virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), flu burung, hingga flu babi dalam kurun waktu 2002-2010 (Harian KONTAN, 13 Juli 2009). Wabah korona bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Tak berapa, virus ini menyerbu belasan negara, termasuk Jepang, Kanada, hingga Amerika Serikat. Jumlah korban pun terus bertambah. Di Tiongkok, misalnya, korona menginfeksi 2.000 orang dan merenggut nyawa 56 orang.

Nah, siapkah Indonesia menghadapi serbuan korona? Pertanyaan ini penting disampaikan karena korona sudah merambah tetangga dekat kita, Malaysia dan Singapura. Dengan kata lain, wabah virus ini sudah di halaman rumah kita. Kondisi geografis kita juga sangat rentan dengan virus korona jenis baru ini. Oleh karena itu, seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Pemerintah dan semua pemangku kepentingan harus bahu membahu menyiapkan antisipasi. Mulai dari ketersediaan akses informasi, sosialisasi pencegahannya, hingga peranti penangkal maupun penanganan korban korona. Tidak boleh lagi seperti berbagai kejadian yang sudah-sudah. Akibat lengah, tiba-tiba kita kepayahan menghadapi SARS maupun flu burung yang sudah menggila. Kita tak ingin mendadak banyak diperdengarkan kabar duka karena serangan wabah misterius gara-gara terlambat mengantisipasi. Mudah-mudahan nasib kita tidak seperti Neville; luntang lantung sendirian karena yang lain habis terkena virus. Nauzubillah min zalik.

Penulis : Barly Haliem Noe

Managing Editor




TERBARU

Close [X]
×