kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Dicari: Pawang Krisis

oleh Ahmad Febrian - Redaktur Pelaksana


Sabtu, 27 Juni 2020 / 12:10 WIB
Dicari: Pawang Krisis
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Proses penyembuhan luka-luka akibat krisis pagebluk korona terus berlangsung. Di sektor keuangan misalnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat realisasi restrukturisasi kredit per 15 Juni 2020 sudah Rp 655,84 triliun. Keringanan berbentuk stimulus ekonomi ini telah diberikan kepada 6,27 juta nasabah.

Yang menarik, penikmat restrukturisasi korporasi lebih besar dibandingkan debitur usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Restrukturisasi debitur non UMKM atau korporasi mencapai Rp 356,98 triliun kepada sekitar 1,1 juta nasabah. Dari sisi jumlah, restrukturisasi kredit korporasi itu mencapai 54,4%.

Apa boleh buat, itulah ongkos krisis yang harus kita tanggung akibat korona. Itu baru dari sektor keuangan.

Dari sisi tenaga kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terhindarkan. Hingga awal Juni ini, jumlah mencapai 3,05 juta. Semua sektor terkena dampak. Bahkan start up kasta tertinggi dengan pangkat decacorn: Gojek dan Grab juga tak bisa menghindari PHK. Kedua perusahaan yang didukung investor kelas dinosaurus telah melakukan PHK. Jumlah PHK diperkirakan akan terus bertambah dan diprediksi menjadi 5,23 juta di akhir tahun.

Banyak yang berharap, dengan new normal ekonomi akan bergerak. Belum lama ini saya diundang makan siang di salah satu restoran. Pulangnya memesan ojek online dan kebetulan pegawai di restoran itu.

Dia lantas bercerita, 30% rekannya sudah dirumahkan tanpa menerima gaji. Dia yang "beruntung" masih bisa bekerja. Tapi tetap cemas. Kabar yang ia dapat, jika omzet restoran tidak bergerak, Agustus nanti akan ada karyawan yang dirumahkan lagi. Restoran itu memang tampak ramai. "Kebanyakan cuma ngobrol, tingkat pesanan sedikit. Masih jauh dari masa normal," kata si pegawai itu.

Sektor ritel, seperti mall juga berharap menadah berkah di masa new normal. Tapi berdasarkan pemantauan KONTAN di dua mall kelas atas di bilangan Jakarta Selatan, suasana sangat sepi.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun ini akan menurun di kisaran 0,9% - 1,9% akibat tekanan dari Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia. Indonesia butuh pawang yang bisa menyelamatkan negeri ini dari hantaman krisis. Perry optimistis, pada tahun 2021 perekonomian Indonesia bisa meroket ke kisaran 5%-6%.

Semoga saja.

Penulis : Ahmad Febrian

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×