Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.393
  • EMAS666.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri: Produk lokal tak ada 10% di e-Commerce

Senin, 04 Februari 2019 / 16:02 WIB

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri: Produk lokal tak ada 10% di e-Commerce

KONTAN.CO.ID -  Seiring kemajuan teknologi yang pesat, perdagangan elektronik alias e-commerce pun ikut berkembang cepat.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan, pertumbuhan e-commerce di negara kita dalam lima tahun terakhir mencapai 150%, dari Rp 56 triliun menjadi Rp 144 triliun.

Tidak berlebihan, industri e-commerce berpotensi menjadi salah satu penggerak perekonomian dalam negeri. Sebab, banyak yang memperkirakan, sumbangannya terhadap produk domestik bruto (PDB) negara kita bakal berlipat-lipat di tahun mendatang.

Tapi, pertumbuhan e-commerce yang pesat juga melahirkan banyak masalah. Sejauh ini pemerintah kesulitan melakukan pendataan yang berakibat tidak maksimalnya pemungutan pajak transaksi online.

Belum lagi, pasar e-commerce kita mendorong arus produk impor khususnya dari China.

Tak sedikit marketplace yang 90% barang dagangannya merupakan produk impor. Menurut data Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), sepanjang tahun 2017 lalu saja, hanya 6%–7% produk lokal yang mejeng di platform e-commerce.

Bahkan, BI pernah menemukan, salah satu e-commerce terbesar di Indonesia menjual 99% barang impor dari China. Bank sentral pun sempat memanggil toko online itu.

Di saat neraca transaksi berjalan alias current account masih mengalami defisit, jangan sampai perkembangan e-commerce yang pesat jadi bumerang.

Fenomena ini membuat para pelaku usaha lokal kesulitan bersaing di negeri sendiri. Selain kualitas produk, pengetahuan tentang teknologi internet yang lemah jadi hambatan pengusaha dalam negeri.

Sejatinya, Indonesia sudah punya Roadmap E-commerce yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Perdagangan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik.

Beleid ini jadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk menetapkan kebijakan sektoral dan rencana tindak percepatan e-commerce.

Pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Apa saja yang akan pemerintah atur? Apakah pemerintah bakal mengatur juga barang-barang yang dijual di marketplace untuk mendorong produk lokal?

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Tjahya Widayanti menjelaskannya kepada wartawan Tabloid KONTAN Ragil Nugroho, Kamis (13/12). Berikut nukilannya:

KONTAN: Euforia Harbolnas masih terasa. Cuma, barang dagangan e-commerce saat ini masih didominasi produk impor. Menurut Kementerian Perindustrian, angkanya mencapai 90%, bahkan BI pernah menemukan ada satu marketplace yang 99% produknya barang impor. Kemdag akan mengatur barang dagangan e-commerce?
TJAHYA:
Saat ini, pemerintah memang belum memiliki data resmi terkait pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Termasuk, data mengenai besarnya perdagangan produk lokal maupun produk impor yang dilakukan melalui e-commerce.

Tapi memang, diperkirakan perdagangan produk-produk lokal masih dibawah 10%.

Melihat kondisi ini, Kemdag bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk para pelaku e-commerce dan Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) terus berusaha mendorong peningkatan  perdagangan produk lokal secara online.

KONTAN: Caranya?
TJAHYA:
Misalnya, melalui kerjasama dalam memberikan edukasi dan pendampingan perdagangan online bagi pelaku usaha lokal khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kemudian, kerjasama dalam penyelenggaraan Hari Belanja Online Nasional Edisi Produk Lokal yang diselenggarakan 11 Desember lalu.

KONTAN: Kabarnya, Kemdag meminta para pelaku e-commerce kelak harus menjual 80% produk lokal. Bagaimana konkretnya?
TJAHYA: Saat ini, Kemdag masih dalam tahap mengimbau pelaku e-commerce untuk bisa membantu mendukung program pemerintah dalam mendorong peningkatan perdagangan produk lokal.

Beberapa pelaku e-commerce Indonesia sudah memiliki berbagai program rutin yang ditujukan untuk meningkatkan literasi pelaku UMKM akan e-commerce dan cara memanfaatkannya untuk meningkatkan penjualan mereka.

Program itu dilakukan melalui kerjasama dengan pemerintah maupun yang diselenggarakan secara mandiri.

Selain itu, Kemdag juga bekerjasama dengan pelaku e-commerce untuk mengkampanyekan cinta produk Indonesia melalui pelaksanaan Hari Belanja Online Nasional Edisi Produk Lokal yang diselenggarakan setiap 11 Desember dan merupakan bagian dari Hari Belanja Nasional (Harbolnas).

Di samping itu, pemerintah juga mendorong pelaku usaha e-commerce untuk ikut membimbing UMKM dalam memproduksi barangnya, kemudian membentuk brand-brand lokal yang mampu bersaing.


Reporter: Ragil Nugroho
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0540 || diagnostic_web = 0.4043

Close [X]
×