kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

EBITDAC

oleh Cipta Wahyana - Managing Editor


Jumat, 08 Mei 2020 / 08:02 WIB
EBITDAC
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Sejak pandemi Covid-19 mulai mencengkeram negeri kita, istilah EBITDAC sering disebut. EBITDA merupakan singkatan earning before interest, tax, depreciation, and amortization atau laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Tambahan huruf C, tak lain, berarti korona atau Covid-19. Dus, EBITDAC ingin mengambarkan kinerja perusahaan sebelum EBIT plus Covid-19.

Di dunia nyata, EBITDAC sulit diaplikasikan. Sebab, berbeda dengan ITDA yang tidak menggambarkan aktivitas operasional; dampak pandemi korona telak menghantam kegiatan bisnis. Menambahkan C dalam hitungan kinerja sama saja bermimpi tentang keadaan perusahaan jika korona tak terjadi.

Namun, istilah EBITDAC tetap bermanfaaat. Sebab, dengan ringkas, istilah ini mampu mengingatkan kita betapa besarnya dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat kegiatan operasional macet: aktivitas kantor terbatas, pabrik terhenti, distribusi terhambat, dan gerai penjualan tutup.

Covid-19 juga mengganggu "C" yang lain: Consumption; sumber pendapatan utama para pebisnis. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tiga bulan pertama 2020, konsumsi rumah tangga hanya Rp 2.280,5 triliun atau merosot 1% dari kuartal terakhir 2019 yang sebesar Rp 2.303,6 triliun. Jika dibanding setahun lalu, konsumsi masyarakat hanya tumbuh 2,84%. Pertumbuhan ini terbilang kerdil jika dibandingkan biasanya yang bisa mencapai sekitar 5%.

Di level mikro, efek spiral penurunan konsumsi akan membuat korporasi kian terjepit. Revenue turun dan kemudian memperbesar defisit pada laporan laba rugi maupun arus kas. Alhasil, banyak perusahaan merumahkan karyawan atau memotong gaji yang akan membuat konsumsi kian tergerus.

Masalahnya, tren perlambatan bisnis belum berakhir. Kinerja korporasi akan semakin tertekan pada kuartal kedua, saat PSBB meluas. Kondisi ini, pada akhirnya, menjadi ujian kekuatan modal serta niat baik para pemegang saham alias pemilik. Kerugian operasi memang bisa diatasi dengan efisiensi. Namun, efisiensi ada batasnya.

Menggunakan kekuatan kas yang berasal dari laba ditahan atau pinjaman bisa menjadi solusi berikutnya jika efisiensi sudah mentok. Solusi lain, pemilik bisa memberi dana talangan dengan dana pribadi. Tentu, si pemilik harus punya kantong yang dalam dan tekad bulat menyelamatkan perusahaan.

Penulis : Cipta Wahyana

Managing Editor



TERBARU
Terpopuler

[X]
×