kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Efek Korona

oleh S.S. Kurniawan - Redaktur Pelaksana


Senin, 03 Februari 2020 / 09:19 WIB
Efek Korona
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Penyebaran virus korona baru semakin meluas. Hingga Minggu (2/2), tercatat 304 orang meninggal akibat virus yang populer dengan sebutan virus korona Hunan itu, sementara 14.411 lainnya positif terjangkit. Kabar baiknya, 328 orang berhasil sembuh setelah menjalani isolasi di rumahsakit.

Yang mencemaskan, selain jumlah korban yang terus bertambah, area penyebaran virus yang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beri nama 2019 novel coronavirus (2019 n-Cov) tersebut meluas. Sebanyak 25 negara melaporkan kasus positif virus korona baru. Bahkan, Thailand, Vietnam, Jepang, dan Prancis mengonfirmasi kasus penularan virus dari manusia ke manusia di negara mereka masing-masing.

Bukan cuma kesehatan, virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China, itu juga menjangkiti sektor ekonomi. Optimisme yang muncul di akhir tahun lalu atas prospek perekonomian langsung sirna. Berubah menjadi pesimisme yang menggulung ekonomi.

Apalagi, virus korona baru merebak saat Tahun Baru Imlek yang merupakan salah satu puncak konsumsi masyarakat di China. Dampaknya bisa menular ke ekonomi banyak negara. Paling nyata: sektor pariwisata. Banyak turis China yang membatalkan pelesiran saat liburan Tahun Baru Imlek ke luar negeri termasuk ke Indonesia.

Maklum, China merupakan salah satu pasar travel terbesar di dunia juga Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pelancong Tiongkok ke Indonesia sepanjang Januari-November 2019 mencapai 1,91 juta orang. China jadi negara penyumbang turis asing terbesar di negara kita.

Melihat wabah virus korona baru yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, malah sebaliknya, makin mengganas, dampaknya bisa meluas ke sektor lainnya. Pabrik-pabrik di China masih banyak yang belum beroperasi pasca liburan Tahun Baru Imlek gara-gara kekhawatiran wabah virus tersebut.

Rantai pasokan bisa terganggu. Padahal, harapan besar sempat muncul, setelah China dan Amerika Serikat meneken kesepakatan perdagangan tahap satu pada pertengahan Januari lalu, yang meredakan perang dagang kedua raksasa ekonomi dunia itu yang sudah berkecamuk selama 18 bulan.

Virus korona baru memang menjadi risiko yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Jadi, pemerintah harus menyiapkan instrumen kebijakan lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Khususnya, mendongkrak konsumsi di dalam negeri.

Penulis : S.S. Kurniawan

Redaktur Pelaksana




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×