kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Efek Virus Mematikan

oleh Titis Nurdiana - Managing Editor


Rabu, 29 Januari 2020 / 10:40 WIB
Efek Virus Mematikan
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Wabah virus korona tak hanya menjadi ancaman bagi China, tapi juga dunia. Virus ini bisa menjadi ancaman pemulihan ekonomi global.

The New York Times dalam laporan berjudul: How China's Virus Outbreak Could Threaten the Global Economy menyebut, bukan mustahil virus mematikan ini bisa menjadikan ekonomi global kembali ke jurang krisis.

Ekonomi China selama bertahun-tahun sudah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang paling kuat di dunia. Pelemahan ekonomi Tiongkok dalam jangka lebih panjang, jelas akan seperti virus, bisa menyeret ekonomi banyak negara.

Wuhan, ibukota Provinsi Hubei, China yang menjadi asal pesebaran virus ini adalah kota industri. Pusat pembuatan mobil, antara lain: mobil General Motors hingga Honda ada di kota ini. Di sini pula, puluhan pembuat suku cadang mobil dan pabrik baja. Ini pula yang membuat Wuhan menawarkan peluang kerja lebih besar.

Banyak penduduk Wuhan adalah pendatang, antara lain dari Hong Kong, Makau, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, selain China sendiri. Dengan posisi ini, Wuhan tak bisa dipandang sebelah mata. Ini pula yang membuat dunia kini waspada.

Sindrom pernapasan akut berat atau SARS menjadi pelajaran penting. Saat SARS menyerang tahun 2002/2003, lebih dari 8.000 orang terjangkit penyakit mematikan ini dan sebanyak 775 orang meninggal dunia. Virus ini juga dengan cepat SARS menyebar ke Hong Kong dan Vietnam dan setelahnya ke berbagai belahan dunia lain.

Efeknya ke ekonomi juga dasyat. Refinitiv mencatat, kuartal III-2002, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 9,6% secara tahunan, kemudian melambat jadi 9,1% di kuartal berikutnya. Pada kuartal I-2003, ekonomi China berhasil naik lagi jadi 11,1%. Hanya, pada kuartal II-2003, ekonomi China menukik tajam dan hanya tumbuh 9,1%.

Setali tiga uang, pasar saham China selama tiga ambrol lebih dari 15%. Pun bursa saham AS (S&P) juga ajlok sampai 12%. Indeks kembali bangkit, pasca WHO secara resmi menyatakan SARS berhenti menyebar pada Juli 2003.

Tahun 2019, ekonomi China hanya tumbuh 6,1%, dan menjadi yang terendah nyaris tiga dekade terakhir. Dengan nilai perekonomian terbesar kedua dunia, pelambatan ekonomi China berpotensi akan turut menyeret turun ekonomi global, bahkan dikhawatirkan bisa berujung ke resesi. Jadi tetaplah waspadalah! 

Penulis : Titis Nurdiana

Managing Editor




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×