kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Ekonomi digital dan pentingnya keterampilan online


Selasa, 01 Oktober 2019 / 14:20 WIB

Ekonomi digital dan pentingnya keterampilan online

Ekonomi digital sedang mengubah bagaimana bisnis menjual produk dan jasa serta bagaimana konsumen mengakses produk tersebut, tidak terkecuali di Indonesia.

Dalam laporannya, Google-Temasek memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia pada tahun 2018 mencapai US$ 27 miliar dan berpeluang tumbuh hingga US$ 100 miliar pada 2025.

Ekonomi digital tidak melulu e-commerce, tetapi sudah mencangkup online travel (jasa perjalanan dan akomodasi), ride hailing (jasa pemesanan taksi) dan online media (jasa langganan musik dan video).

Pertumbuhan e-commerce diperkirakan mencapai US$ 53 miliar pada 2025 dari US$ 12,2 miliar di 2018. Diikuti online travel yang akan tumbuh menjadi US$ 25 miliar pada 2025 dari US$ 8,6 miliar di 2018. Sementara, ride hailing akan meningkat menjadi US$ 14 miliar di 2025 dari 2018 di US$ 3,7 miliar. Terakhir, nilai transaksi online media menjadi US$ 8 miliar pada 2025.

Sementara CLSA memberikan estimasi penjualan ritel online di Indonesia tahun 2018 mencapai US$ 23,7 miliar. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi US$ 58,6 miliar pada 2020. Platform terbesar e-commerce di Indonesia adalah Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada dan Blibli. Penetrasi ekonomi digital itu memberikan peluang bagi pelaku usaha UMKM.

Oleh karenanya, pemerintah mendorong pembangunan ekosistem ekonomi digital strategis yang salah satunya melalui UMKM Go Online. Pemerintah dengan beberapa marketplace dan start-up di Indonesia sudah bekerjasama dan menargetkan 8 juta UMKM Go Online melalui Gerakan Nasional Ayo UMKM Jualan Online. Jumlah UMKM yang sudah berjualan online pada 2018 mencapai 4,9 juta usaha.

Hingga tahun 2018, pemerintah sudah melakukan empat program inisiatif yang berkolaborasi dengan kementerian atau lembaga terkait, yaitu Onboarding atau mendorong pelaku UMKM offline menjadi online, Active Selling atau pendampingan kepada para UMKM yang sudah Go Online untuk meningkatkan transaksi online, Scale Up Business atau membantu pelaku UMKM untuk meningkatkan skala bisnisnya, hingga Go International atau gerakan mendorong pelaku UMKM meningkatkan jangkauan pasar menjadi internasional.

Pertumbuhan penjualan ritel online juga dipicu meningkatnya penetrasi internet dan smartphone. Penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 171 juta jiwa atau 64,8% dari total jumlah penduduk pada 2018.

Pemerintah terus meningkatkan akses informasi secara menyeluruh bagi masyarakat di seluruh Indonesia dengan perluasan infrastruktur informasi melalui program peningkatan infrastruktur teknologi.

Sejak 2018, pemerintah telah membangun infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang meliputi Palapa Ring, base transceiver station, akses internet, high throughput satellite, penataan spektrum frekuensi radio serta jangkauan sinyal seluler.

Dari sisi akses dan kualitas sinyal seluler, jangkauan akses internet untuk sinyal 2G sudah meliputi 73.728 desa, 6.408 kecamatan dan 488 kabupaten/kota.

Cakupan sinyal 3G sudah mencapai 64.216 desa, 5.769 kecamatan dan 455 kabupaten/kota. Sementara sinyal 4G sudah diakses di 68.537 desa, 5.954 kecamatan dan 466 kabupaten/kota.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×