kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,71   -11,32   -1.32%
  • EMAS943.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.29%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Ekonomi Merangkak

oleh Harris Hadinata - Redaktur Pelaksana


Rabu, 21 April 2021 / 11:36 WIB
Ekonomi Merangkak
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Saat berbincang dengan seorang analis beberapa waktu yang lalu, si analis ini mengemukakan pesimismenya ekonomi bisa segera membaik sesuai harapan. Ia tetap merasa pesimistis meski sejumlah data ekonomi, di antaranya indeks ekspansi, sektor manufaktur, tampak membaik.

Ada beberapa alasan yang membuat si analis pesimistis. Pertama, kebijakan pemerintah melarang masyarakat mudik pada lebaran tahun ini. Kedua, ia juga menyoroti kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Padahal, ada kekhawatiran pasokan vaksin Covid-19 terhambat dan bisa menghambat program vaksinasi.

Kekhawatiran si analis ini rupanya cukup valid. Dalam rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini, petinggi bank sentral rupanya juga melihat ekonomi belum akan pulih cepat.

BI merevisi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,1%-5,1%. Sebelumnya, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,3%-5,3% sepanjang tahun ini.

Asal tahu saja, di saat yang sama, BI justru merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global, dari sebelumnya 5,1% menjadi 5,7%. Alasannya, ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China tumbuh lebih cepat dari perkiraan.

Realisasi pertumbuhan ekonomi China di kuartal satu lalu memang luar biasa. Sesuai proyeksi konsensus analis, ekonomi China di kuartal satu lalu tumbuh 18,3%. Ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang cuma 6,5%.

Penjualan ritel di negeri asal Shaolin tersebut juga meningkat tajam. Di Maret lalu, penjualan ritel China melesat 34,2% secara year on year (yoy). Ini lebih tinggi ketimbang proyeksi analis yang cuma naik 28%. Realisasi tersebut juga lebih tinggi dari kenaikan di Februari yang sebesar 33,8%.

Di Indonesia, penjualan ritel masih tercatat turun. BI mencatat penjualan ritel yang tercermin dari indeks penjualan riil (IPR) periode Februari masih terkontraksi. IPR berada di level 177,1 Februari lalu, turun 18,1% secara yoy. Seperti diketahui, selama ini konsumsi masyarakat masih jadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, meski indeks manufaktur menunjukkan pemulihan sampai kuartal satu lalu, masih banyak korporasi yang bisnisnya tertekan efek pandemi. Salah satunya perusahaan tekstil Sritex, yang kini harus berjuang merestrukturisasi utang.

Jadi, jalan menuju pemulihan ekonomi masih panjang.

Penulis : Harris Hadinata

Redaktur Pelaksana




TERBARU

[X]
×