kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Ekosistem Logistik Perspektif Maritim


Rabu, 14 Oktober 2020 / 14:52 WIB
Ekosistem Logistik Perspektif Maritim

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Ekosistem Logistik Nasional atau ELN, kini menjadi kata yang bergaung kencang dalam labirin perlogistikan nasional. Hal ini terutama sejak diberlakukannya Inpres Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional pertengahan Juni 2020 yang lalu.

Semua pemangku kepentingan atau stakeholder sektor ini membicarakannya, rata-rata dengan tone positif. Mereka berharap dengan ELN bisa menjadi langkah pembuka dalam upaya memperbaiki kinerja logistik negeri ini yang masih saja digelayuti inefisiensi yang lumayan parah.

Saya termasuk yang beruntung sempat mengikuti beberapa kali rapat yang diadakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi untuk membahas ELN. Rapatnya ada yang digelar di kantor instansi itu maupun di sebuah hotel di kota hujan Bogor Jawa Barat.

Saat itu istilahnya masih dalam Bahasa Inggris: National Logistics Ecosystem (NLE). Kini disingkat ELN. Dibalik saja. Muncul berbagai pandangan dari hadirin yang mewakili berbagai asosiasi dan perusahaan terkait gagasan tersebut dalam forum. Tulisan ini hanya akan menyajikan pandangan dari sudut bisnis pelayaran.

Pandangan kalangan pelayaran dalam negeri itu begini. Ekosistem Logistik Nasional (ELN) dinilai tidak atau belum dapat diintegrasikan ke dalam bisnis mereka karena masing-masing pelaku usaha sudah memiliki platform digital sendiri. Karena pelayaran dalam negeri ini hanya agen dari operator internasional itu berarti sistem digital yang digunakan langsung dari server di luar negeri di sana. Agen hanya dibagi password saja oleh principal-nya, tidak bisa memutuskan bergabung atau tidak ke dalam ELN.

Salah satu menu/item dalam jaringan adalah bill of lading (B/L). Antara sistem Teknologi Informasi (TI) principal dengan platform yang ada di Indonesia, terutama dengan sistem yang dikelola oleh pemerintah semisal Indonesia National Single Window, tidak bisa berkomunikasi akhirnya tak terhindarkan B/L tetap dalam format aslinya berupa dokumen kertas. Inilah alasan mengapa bisnis pelayaran domestik masih belum sepenuhnya paperless.

Konosemen Bahasa Indonesia untuk bill of lading yang masih konvensional tadi mengakibatkan proses yang terkait dengannya, misalnya pembayaran-pembayaran biaya/tagihan, juga tidak sepenuhnya bisa digital. Ditambah tidak semua kantor di pelabuhan, bank khususnya, yang beroperasi (24/7) lengkaplah sudah kelambatan upaya go digital yang sudah digeber selama ini.

Operator internasional (main line operator) memang memiliki platform TI masing-masing sebagai upaya memudahkan proses bisnis korporasi. Di samping itu, dengan digitalisasi yang mereka jalankan diharapkan muncul revenue stream baru yang bisa memperkuat struktur keuangan perusahaan yang makin tertekan akibat perubahan lingkungan strategis. Tetapi, belakangan ada inisiatif untuk membuat semua platform ini saling bicara antara satu dengan yang lainnya melalui Tradelens.

Tradelens adalah anjungan digital yang diinisiasi oleh IBM dan pelayaran Maersk di kota San Francisco, AS, pada Januari 2018. Sebagai inisiator, operator asal Denmark itu meniatkan kerja mereka untuk kemaslahatan bisnis pelayaran dunia. Ide perlunya platform itu selanjutnya dikembangkan lebih konkret oleh IBM dengan menggandeng GTD Solution Inc, sebuah perusahaan yang fokus dalam bidang digitalisasi sektor transportasi/logistik, anak usaha Maersk.

Niatan Maersk menjadikan Tradelens sebagai platform bersama bagi insan pelayaran disambut baik oleh raksasa pelayaran lainnya seperti CMA CGM (Prancis) dan Mediteranian Shipping Company/MSC (Swiss). Di lapangan, perusahaan-perusahaan ini sebetulnya berkompetisi ketat dalam sektor pelayaran peti kemas, khususnya antara Maersk dan MSC yang membentuk aliansi 2M dengan CMA CGM yang merupakan anggota Ocean Alliance.

Namun semangat untuk menjadikan bisnis pelayaran lebih trengginas membuat mereka mengenyampingkan kompetisi yang ada dan ikut terlibat dalam mengusung dan menyukseskan platform Tradelens. Achievement-nya terbilang mengesankan. Saat ini sudah ratusan entitas bisnis terminal, perusahaan truk, pergudangan, dan lain sebagainya sudah bergabung ke dalam anjungan itu. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia.

Integrasi dengan INSW

Indonesia National Single Window (INSW) pada derajat tertentu barangkali dapat disejajarkan dengan Tradelens. Bedanya, satu dimotori oleh pemerintah/negara, satunya lagi oleh swasta.

Pertanyaannya, apakah INSW bisa berbicara dengan Tradelens dalam bahasa yang sama? Jika tidak, platform domestik yang mana yang akan dijadikan mitra anjungannya pelayaran global itu?

Seperti yang sudah disampaikan oleh pengelola Ekosistem Logistik Nasional (ELN), dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, ELN bukanlah sebuah platform. Ia sebagai integrator dari berbagai platform yang ada milik instansi pemerintah maupun yang dioperasikan oleh swasta. Pertanyaan berikutnya, apakah ELN juga memasukkan platform asing sebagai ekosistemnya?

Komunikasi dengan platform pelayaran internasional yang ada sependek pengetahuan penulis sejauh ini baru muncul Tradelens saja patut dipikirkan mengingat 90% aktivitas ekspor-impor nasional dilakukan oleh kapal asing. Dari pagu ini pelayaran atau transportasi peti kemas amat dominan perannya. Ini berarti pengelola Tradelens perlu diajak ngopi-ngopi dulu oleh pemerintah mendiskusikan ELN. Sehingga, efektivitas ELN bagi komunitas pelayaran/logistik internasional juga ada manfaatnya. Bukan hanya untuk khalayak dalam negeri.

ELN masih baru. Tentu masih banyak celah yang perlu dilengkapi agar ia dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan. Apalagi tenggat waktu yang diberikan oleh Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 hingga ELN bisa berjalan sepenuhnya masih sekitar empat tahun ke depan. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk memotret seluruh proses bisnis yang ada dalam pelayaran peti kemas. Jika perlu, pemerintah mendorong pelaku usaha logistik dalam negeri bergabung ke dalam Tradelens.

Bisnis pelayaran sudah berputar ribuan tahun lamanya. Dalam bahasa bisnis yang sama langgamnya di seluruh dunia. Bahasa itu kini dipercakapan dalam mulut dan telinga elektronik. Namun, maknanya tetap dipahami sama oleh peserta percakapan. Kita mau mulut dan telinga elektronik yang kita miliki untuk berkomunikasi dengan bisnis pelayaran dunia juga dapat bercakap dengan makna yang sama.

ELN dengan semua platform yang ada di dalamnya mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik tanpa perlu menjadikan ekosistem logistik kita seperti katak dalam tempurung. Semoga.

Penulis : Siswanto Rusdi

Direktur The National Maritime Institute (Namarin)



TERBARU
Terpopuler

[X]
×