kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Eksplorasi potensi industri fesyen muslim


Senin, 13 November 2017 / 12:36 WIB

Eksplorasi potensi industri fesyen muslim

Di tengah polemik penutupan sejumlah gerai konvesional akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat dari non-leisure economy ke leisure economy, industri kreatif hadir sebagai salah satu sektor industri yang dipercaya dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Hal ini terlihat dari mulai maraknya kegiatan ekonomi kreatif yang tengah berlangsung belakangan ini. Mulai dari industri fesyen, musik, film, kuliner, serta tak ketinggalan para usaha rintisan lokal yang terus bermunculan.

Survei Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf) dan BPS pada tahun 2016 kemarin menunjukkan industri kreatif mengalami rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 10,14% pada periode tahun 2010-2015. Pada tahun 2015 sektor ini berkontribusi sekitar 7,38% terhadap perekonomian nasional. Selain itu, nilai ekspor industri kreatif mencapai US$19,4 miliar, dengan tiga subsektor utama, yaitu fesyen (56%), kriya (37%) dan kuliner (6%).

Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, industri fesyen, utamanya busana muslim berpotensi menjadi branding utama industri kreatif Indonesia. Apalagi potensi pasarnya di tingkat global masih terbuka lebar.

Dalam laporan “The State of the Global Islamic Economy Report 2015/2016”, Thomson Reuters menyebutkan nilai penjualan busana muslim dunia tahun 2014 mencapai US$ 230 miliar. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga US$ 327 miliar atau tumbuh 42% pada tahun 2020. Thomson Reuters menempatkan Indonesia sebagai peringkat kelima negara dengan konsumsi busana muslim tertinggi tahun 2014 dengan pengeluaran sebesar US$ 12,69 miliar.

Pada tahun 2010 pemerintah telah mencanangkan Indonesia sebagai pusat busana muslim di tingkat Asia pada tahun 2018 dan tingkat dunia pada tahun 2020. Target tersebut tentu harus bisa terealisasi. Tujuh tahun telah berlalu, namun realisasi visi tersebut nampaknya masih jauh panggang dari api. Setidaknya terdapat tiga strategi yang harus dilakukan semua pihak, tidak cuma pemerintah tapi stakeholder  yang lain supaya bisa menggapai mimpi tersebut menjadi kenyataan.

Pertama, culture atau budaya. Potensi industri busana muslim dapat diwujudkan melalui perpaduan desain busana muslim dengan tenun khas daerah atau batik. Sebagai warisan budaya Indonesia, kombinasi keduanya akan melahirkan keunggulan mutlak yang hanya dimiliki Indonesia.

Busana muslim bermotif tenun/batik sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa ajang peragaan busana skala internasional dan nasional telah memamerkan koleksi busana tersebut. Panggung London Fashion Week, Jakarta Fashion Week dan Muslim Fashion Festival telah menjadi saksi bagaimana busana muslim bermotif tenun serta batik hasil kreasi anak bangsa mendapat apresiasi dari pecinta fesyen dunia.



Editor: Tri Adi

Video Pilihan


×