Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.568
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS655.000 -0,15%

Fintech lending dan idealitas tim sukses usaha

Jumat, 02 November 2018 / 15:42 WIB

Fintech lending dan idealitas tim sukses usaha

Layanan kredit oleh lembaga fintech atau tekfin sudah semakin masif. Per Juni 2018, fintech lending telah menggelontorkan dana sekitar Rp 7,64 triliun, naik 298,44% dibandingkan dengan Desember 2017 yang mencapai Rp 2,56 triliun. Salah satu penopang adalah makin banyaknya tekfin dan mendaftarkan diri ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Harian KONTAN (20/08) mencatat, per Agustus 2018 sudah ada 66 tekfin yang resmi terdaftar dan mengantongi izin OJK, serta 62 fintech yang berpotensi mendaftar.

Lika-liku dan suka-duka proses perkreditan sebagaimana yang lebih dulu dialami lembaga perbankan konvensional mulai mereka alami. Mulai dari pemilihan debitur yang kurang tepat, penipuan data oleh calon peminjam, pergeseran sepihak penggunaan dana pinjaman alias penyelewengan kredit dan lainnya.

Dibandingkan dengan prosedur perbankan yang masih memerlukan survei untuk mendapatkan kepercayaan pemutus kredit, model pemberian kepercayaan oleh fintech lending justru jauh lebih moderat. Mayoritas fintech lending merasa tidak perlu melakukan prosedur survei (on the spot). Meski untuk kredit ritel dan menengah, sebagian tekfin menetapkan standar survei.

Sistem itu tidak berlaku di perbankan. Analisis pemenuhan aspek 5Cs (character, capasity, capital, condition, dan collateral) dilakukan secara ketat. Karena sumber dana kredit dari dana nasabah.

Ini yang tampaknya terjadi di layanan pinjaman oleh fintech sekarang ini. Pengambilan keputusan yang menggunakan proses rantai pendek berjalan relatif mulus. Proses pencairan kredit hingga efektif menjadi modal usaha pun mampu dilaksanakan secara cepat. Jarak antara lokasi peminjam dan lembaga pemberi pinjaman tidak lagi menjadi isu.

Tingkat kepercayaan fintech lending yang luar biasa tinggi ini harus dijawab dengan kualitas kredit yang sama tingginya. Apakah terbukti? Sejauh ini fluktuasi masih terjadi. Coba lihat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) fintech lending Desember 2017 di angka 0,99%, melompat drastis menjadi 1,2% pada Januari 2018. NPL kembali membaik di akhir April 2018 (0,53%), lantas kembali di kisaran 1% pada bulan Agustus 2018.

Alasan Ketua Satgas P2P Lending Asosiasi Fintech Indonesia Reynold Wijaya pada awal tahun lalu adalah, profil risiko kredit yang lebih tinggi, karena fintech lending mengambil segmen UMKM yang tidak bankable. Profil risiko yang tinggi ini menciptakan kecenderungan suku bunga yang tinggi, yakni antara 19% - 20%.

Lepas dari itu semua, optimisme OJK, NPL fintech lending akan bisa dikendalikan dengan baik sampai akhir tahun 2018 di kisaran 1% menjadi sebuah harapan yang menjanjikan. Menjanjikan terus bergulirnya pinjaman mudah oleh tekfin yang terbukti mampu menghidupkan dan mengakselerasi pertumbuhan UMKM di Indonesia. Pemilik dana semakin yakin bahwa investasi-nya di peer to peer lending bukanlah investasi yang membahayakan atau merugikan.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0706 || diagnostic_web = 0.4019

Close [X]
×