Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.488
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS659.000 0,00%

Fithra Faisal, Pengamat UI: Dampak lanjutan perang dagang AS yang mengkhawatirkan

Senin, 06 Agustus 2018 / 15:41 WIB


Perang dagang antara AS dengan China akhirnya benar-benar pecah. Tentu saja, perseteruan dua raksasa ekonomi dunia tersebut bakal membawa dampak yang luas, termasuk ke Indonesia.

Apa saja efeknya? Lalu, pemerintah harus melakukan apa? Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menyampaikan analisisnya kepada wartawan Tabloid KONTAN Lamgiat Siringoringo, Kamis (12/7).

Menurut Fithra, perang dagang AS-China harusnya jadi momentum Indonesia untuk masuk ke pasar ekspor nontradisional seperti Afrika.
Berikut nukilannya:

KONTAN: Apa efek perang dagang AS-China yang paling terasa buat Indonesia?
FITHRA:
Kalau melihat dampak langsung, tidak akan segera terasa. Perdagangan internasional Indonesia tidak terlalu besar pengaruhnya ke produk domestik bruto (PDB). Sebab, sebagian besar dari konsumsi. Kontribusi ekspor dikurangi impor ke PDB kurang dari 2%.

Hasil perhitungan saya, kontraksi dari perang dagang AS-China cuma 0,1%. Artinya, kalau pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,2%, kelak cuma 5,1%. Jadi, dampak perang dagang tidak terlalu signifikan.

Tapi, kalau melihat dampak lanjutannya cukup mengkhawatirkan. Secara makro, jika dilihat, AS dan China adalah dua pemain besar.

Potensi pertumbuhan ekonomi global, menurut ramalan Dana Moneter Internasional (IMF) tahun ini sebesar 3,9%. Kalau perang dagang meluas, ada kontraksi sekitar 0,8%.

Jadi, hanya tumbuh 3,1%. Soalnya, China dan negara-negara emerging market sangat mengandalkan perdagangan internasional. Beda dengan Indonesia. Maka, kontraksinya beda dengan negara lain.

KONTAN: Dampaknya ke Indonesia kelak besar, ya?
FITHRA:
Yang akan langsung terasa dan sekarang sudah terasa ke nilai tukar rupiah karena ada ekspektasi negatif. Tambah lagi, kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Selain itu, volatilitas rupiah juga lantaran defisit neraca transaksi berjalan. Dengan ada perang dagang, potensi mitra ekspor tradisional Indonesia akan mengkerut.

Yang selama ini menopang surplus neraca dagang kita, kan, ekspor ke AS. Apalagi, AS juga akan mengevaluasi barang-barang impor dari kita.

Selain AS, China merupakan mitra tradisional Indonesia dan keduanya masuk 10 besar dari seluruh negara yang dituju Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor.

Malahan, neraca dagang Indonesia dengan AS mencetak surplus. Makanya, akan berbahaya jika memang ada tekanan dari perang dagang yang membuat surplus bisa berkurang.

KONTAN: Ditambah langkah AS yang mengevaluasi insentif tarif terhadap 124 produk kita, dampak perang dagang kian berbahaya, dong?
FITHRA:
Presiden AS Donald Trump memang mencoba mengevaluasi kebijakan perdagangan untuk Indonesia. Walaupun sebenarnya, tidak terlalu signifikan dari total nilai perdagangan dengan AS.

Saya rasa, itu hanya sebuah gimmick bahwa AS menginginkan koneksi yang lebih bilateral. Jadi, perlu bicara lagi secara bilateral. Ini menjadi gertakan dan menunjukkan power mereka. Dan, ini juga menjadi warning untuk tidak dekat dengan China.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0543 || diagnostic_web = 0.3653

Close [X]
×