kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

""Gejolak rupiah selalu dari pasar obligasi" (Chatib Basri, Pengamat Ekonomi)


Selasa, 22 Mei 2018 / 14:40 WIB


Chatib Basri, Pengamat Ekonomi

 

Rupiah benar-benar babak belur menghadapi dollar AS. Sedikit lagi, nilai tukar rupiah menembus level
Rp 14.000 per dollar AS.

Bank Indonesia (BI) sejatinya tidak berdiam diri. Meski berulang kali melakukan intervensi pasar, rupiah belum mau menjauh dari posisi Rp 13.800–Rp 13.900 per dollar AS.
 

Sebetulnya, apa yang membuat mata uang garuda terus-terusan melemah? Lalu, BI dan pemerintah mesti melakukan langkah apa? Pengamat Ekonomi Chatib Basri memberikan analisisnya kepada Wartawan KONTAN Lamgiat Siringoringo dalam sebuah wawancara di Jakarta, Rabu (2/5) lalu.  Berikut nukilannya:
 

KONTAN: Apakah nilai tukar rupiah yang anjlok saat ini sudah mengkhawatirkan?
CHATIB:
Kalau ditanya, apakah anjloknya nilai tukar rupiah mempunyai dampak atau tidak? Tentu saja tidak, ini kondisi yang sangat wajar. Karena juga terjadi di seluruh mata uang. Saya tidak melihat ada yang perlu dikhawatirkan.

Tapi, saya bisa berbicara seperti ini secara rasional. Persoalannya, pasar kan belum tentu rasional. Dalam ilmu ekonomi, ada yang disebut animal spirit. Itu seperti saat di tempat keramaian, ada seseorang yang berteriak ada api dan lari, maka orang-orang di kerumunan itu juga akan ikutan lari.  

KONTAN: Seperti apa gambaran kepanikan pasar?
CHATIB:
Gerakan gejolak dari rupiah selalu dimulai dari bond market, karena 40% pemegang obligasi kita adalah investor asing. Kalau return bond di Amerika Serikat menarik dan tekanan terhadap rupiah mulai mereda, begitu rupiah melemah karena mereka pegang dalam bentuk rupiah, maka supaya tidak terlalu dalam ruginya, mereka jual bond. Lalu, mereka konversi ke dollar AS sehingga rupiah semakin melemah.

Makin lemah rupiah, makin banyak lagi obligasi yang mereka jual. Inilah yang disebut capital outflow. Ini yang menjelaskan, kenapa rupiah melemah tajam. Begitu juga di pasar modal.

Namun, kenapa pasar modal tidak terlalu jatuh, karena pemain lokal cukup kuat. Berbeda di bond market. Beberapa bond holders melepas obligasi mereka, nilai tukar rupiah bisa langsung terpengaruh.

KONTAN: Kan, BI juga melakukan intervensi pasar. Apakah ini enggak cukup?
CHATIB:
Apakah selamanya BI bisa di pasar untuk intervensi? Cadangan devisa kita sekitar US$ 130 miliar, saya kurang tahu berapa yang sudah keluar untuk intervensi.

Mungkin bisa US$ 4 miliar–US$ 6 miliar dalam sebulan, itu kan sekitar 5%. Berapa lama BI bisa menjalankan itu. Market juga mikir, berapa lama BI seperti itu.

Dalam enam bulan rupiah bisa melemah terus dan berapa lama BI bisa bertahan. Makanya, harus ada kombinasi dari kebijakan reform. Kalau bahasa BI, itu adalah bauran.

KONTAN: Apa yang harus BI dan pemerintah lakukan agar pasar tidak panik?
CHATIB:
BI dan pemerintah harus menghindar dari tindakan-tindakan yang membuat market panik. Situasi ini bisa semakin parah kalau ada kebijakan-kebijakan dari pemerintah dan BI yang tidak sesuai dengan pandangan pasar.

Misalnya, market selalu minta economy reform. Lihat saja, saat Presiden Joko Widodo menghilangkan subsidi Premium tahun 2014, semua investor tepuk tangan. Kemudian, saat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati konsolidasi fiskal, semuanya tepuk tangan.

Buntutnya, Standard & Poor’s (S&P) menaikkan rating kita. Maka yang terjadi, uang masuk ke Indonesia karena market melihat ada reformasi. Namun sebaliknya, saat tidak ada reformasi, uang akan keluar.


Reporter: Lamgiat Siringoringo
Editor: Mesti Sinaga

Video Pilihan


×