kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Generasi Covid-19

oleh Cipta Wahyana - Managing Editor


Kamis, 26 Maret 2020 / 12:31 WIB
Generasi Covid-19
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Sebuah bencana besar di suatu negara, baik itu bencana alam maupun pandemi penyakit, konon, mampu pengubah perilaku masyarakat. Pandemi Covid-19 tampaknya, tak terkecuali.

Hasil sebuah survei yang baru saja digelar di China menunjukkan gejala kuat pergeseran cara pandang dan perilaku masyarakat. Glocalities, sebuah lembaga survei asal Belanda, melaporkan, setelah pandemi Covid-19, masyarakat China lebih menghargai etika-etika dalam bermasyarakat. Mereka juga mengharga pihak-pihak yang berkontribusi bagi masyarakat seperti para filantropi dan tenaga medis. Kepercayaan terhadap institusi pemerintah, korporasi, serta pendidikan juga meningkat.

Selain itu, kini, lebih banyak warga China yang cenderung menolak perilaku individualistik. Temuan lain, lockdown Wuhan membuat lebih banyak orang mendambakan keteraturan dalam bermasyarakat.

Catatan saja, Glocalities melaksanakan survei tersebut secara online antara tanggal 23 Januari hingga 13 Maret 2020. Mengingat tragedi Covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, mereka meyakini, pergeseran perilaku yang setipe juga akan terjadi di negara-negara yang mengalami pandemi Korona.

Benar, kita masih dalam kondisi prihatin dan was-was karena, di Indonesia, pandemi Covid-19 justru tengah menyebar. Grafik jumlah orang yang tertular Korona justru sedang mendaki. Namun, kita boleh memupuk harapan bahwa setelah pandemi berlalu, persatuan masyarakat kita justru semakin erat. Alih-alih egois, individualistik, atau mementingkan golongan; seperti tren di China, masyarakat akan semakin peduli terhadap orang lain.

Bicara soal ekonomi dan pengelolaan finansial, generasi yang mengalami pandemi Covid-19, semestinya, juga lahir menjadi generasi baru. Generasi ini, kemungkinan besar, akan menjadi generasi yang lebih peduli tentang pengelolaan utang yang sehat, sumber pendapatan kedua, serta pentingnya dana darurat maupun proteksi asuransi bagi keluarga.

Sementara, mereka yang berinvestasi di pasar modal juga akan naik kelas. Jika lulus melewati masa kelam pasar modal akibat pandemi Korona, kemungkinan besar, Anda akan menjadi investor yang bermental baja. Investor yang tak jeri melihat gejolak janga pendek dan tetap fokus kepada tujuan-tujuan investasi jangka panjang. Bukankah selain pengetahuan dan ketangkasan, kunci sukses investor adalah kematangan emosi?

Penulis : Cipta Wahyana

Managing Editor





Close [X]
×