kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Gerakan Berdamai dengan Virus

oleh Irwan Wisanggeni - Dosen Trisakti School of Management


Selasa, 02 Juni 2020 / 09:55 WIB
Gerakan Berdamai dengan Virus
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Istilah berdamai dengan virus korona digelontorkan Presiden Joko Widodo baru baru ini. Reaksi pro dan kontra berseliweran di jagat dunia maya atas pernyataan tersebut. Penulis berasumsi bahwa yang dimaksud dengan berdamai dengan virus adalah pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Langkah pelonggaran ini di namakan new normal sebuah gerakan berdamai dengan virus, karena kita mengetahui bahwa kondisi virus korona belum dapat dipangkas secara menyeluruh namun hidup harus jalan terus. Istilahnya kita memasuki suasana hidup normal yang baru atau new normal.

Penulis mencoba membandingkan situasi ini dengan flu Spanyol. Jika kita membalik sejarah sehubungan dengan virus flu Spanyol di tahun 1918-1920. Dalam riset jurnalis BBC World Service Fernando Duarte ketika menyusun tulisan ini, flu Spanyol tercatat menewaskan lebih banyak orang dari korban Perang Dunia I. Korban flu Spanyol sekitar 50 juta manusia.

Lalu bagaimana flu Spanyol dapat dilawan. Catatan sejarah kesehatan menjelaskan flu Spanyol yang diakibatkan oleh virus, tentu memberikan antibodi untuk melawan virus tersebut pada orang - orang yang telah berhasil selamat. Meskipun pada saat itu belum ada pengobatan yang benar - benar efektif dalam penanganan flu Spanyol, orang yang selamat ini mendapatkan kekebalan tubuh (antibodi memori) yang menyimpan bagaimana cara melawan virus.

Dapat disimpulkan bahwa didalam tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang harus terus di asah agar mampu bertahan melawan Covid 19. Flu Spanyol tidak hilang karena vaksin, pada puncak keganasannya virus itu lenyap sendiri dengan korban yang meninggal.

Ahli kesehatan banyak memberikan arahan tentang pola hidup sehat dengan rajin olah raga, minum vitamin, makan makanan yang bergizi, menggunakan masker, jaga jarak saat melakukan kontak, cuci tangan, istirahat cukup, membatasi kegiatan sosial. Hal ini harus dijadikan pola kebiasaan oleh masyarakat di era new normal. Karena kebiasaan hidup ini akan memberikan pencegahan penularan virus.

Polemik di media sosial tentang new normal menjadi perhatian publik. Namun sebenarnya polemik ini tak perlu dihiraukan mengingat kondisi ekonomi akan terpuruk jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak dilonggarkan.

Penulis baru-baru ini mengikuti seminar via daring (jarak jauh) dimana seminar tersebut mengulas bagaimana kondisi makro ekonomi kita. Dijelaskan bahwa dalam kondisi ekonomi kita saat ini memprihatinkan, fluktuasi harga saham di bursa efek seirama dengan data fluktuasinya pasien terjangkit Covid 19, jadi perekonomian kita "sangat covid banget", begitu kata si pemakalah.

Pemulihan ekonomi

Gerakan berdamai dengan virus adalah langkah yang bernuansa pemulihan ekonomi yang ditransmisikan dengan PSBB yang dilonggarkan. Lantas unit-unit usaha (perkantoran, mal, pertokoan) akan bergerak kembali melakukan aktivitas new normal. Dalam kondisi ini memang diharapkan ada pemulihan ekonomi Indonesia secara berangsur.

Ekonom banyak memprediksi soal perekonomian dimasa Covid 19, Indonesia mengalami kontraksi yang cukup dalam dari 4,97% di kuartal 4 tahun 2019 menjadi tumbuh hanya 2,97% pada kuartal pertama 2020. Namun hal ini bukan terjadi di Indonesia semata, mitra dagang Indonesia pun mengalami hal serupa. Misalnya Singapura minus 2,2%, Hong Kong minus 8,9%, Uni Eropa minus 2,7% dan China juga minus 6,8% . Amerika Serikat turun dari 2,3% menjadi 0,3%, Korea Selatan dari 2,3% menjadi 1,3% dan Vietnam dari 6,8% jadi 3,8%.

Saat ini dunia sudah mulai melonggarkan lockdown untuk tujuan penyelamatan ekonomi mereka, seperti Amerika, China, Vietnam, Prancis, Ceko, Austria, Selandia Baru, Inggris, Italia, India, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Spanyol, Denmark, Norwegia, atau Mesir. Pasti alasan mereka pun serupa yakni pertimbangan pemulihan perekonomian agar tidak terpuruk semakin dalam.

Naiknya angka pengangguran menjadi hantu menakutkan dampak dari menurunnya pertumbuhan ekonomi , hal ini sebenarnya yang paling mengkhawatirkan karena kondisi berimbas pada masyarakat kecil. Masyarakat akan sulit memulihkan diri mereka untuk bisa bertahan pada kondisi ekonomi yang sedang terpuruk, contohnya apabila mereka terkena pemutusan hubungan kerja (PHK ) maka mereka akan mencoba bertahan hidup dengan berjualan kecil kecilan. Namun ditengah kondisi ekonomi yang menurun, daya beli masyarakat pun akan tergerus yang otomatis akan sulit untuk pedagang kecil.

Kuncinya memang pemerintah harus turun tangan membantu masyarakat korban PHK, (data resmi korban PHK akibat Covid- 19 dari Kementrian Ketenagakerjaan sekitar 2,8 juta orang) memang saat ini program bantuan tersebut sudah ada dengan kartu pra kerja, minimal mereka korban PHK bisa makan, dan saat ini adanya program bantuan pemerintah senilai Rp 700.000 sampai dengan Rp 1 juta untuk korban PHK.

Namun pemerintah perlu meninjau apakah nilai tersebut mencukupi untuk membeli lauk pauk selama satu bulan dikarenakan hal tersebut jauh dari upah minimun regional (UMR) yang merupakan standar kebutuhan minimal masyarakat kecil. Karena jika standar untuk membeli makanan tidak tercukupi maka dikhawatirkan akan terjadi gizi buruk dan akan sulit buat masyarakat kecil untuk bertahan melawan virus.

Karena untuk melawan virus diperlukan badan yang sehat dan hal ini didapat dari pola makan yang baik dan bergizi. Dalam proses pembagian program bantuan tersebut perlu melibatkan orang orang yang berintegritas karena jika tidak, dana tersebut menjadi tidak tepat sasaran.

Maka era new normal atau kenormalan baru adalah suatu gerakan yang sudah benar dilakukan oleh pemerintah, karena hal ini akan dengan cepat memperbaiki perekonomian nasional. Diharapkan masyarakat mendukung program new normal sehingga Indonesia bisa keluar dari krisis ini.

Dalam menghadapi krisis ekonomi saat ini, sebaiknya kita tak perlu memaki-maki kegelapan tapi menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan. Karena memaki kegelapan akan membuat kita kehabisan energi untuk berpikir dan kelelahan mental. Maka diperlukan sikap positif dan daya kreativitas yang tinggi untuk mengatasi situasi sulit saat ini dan berhentilah berpolemik karena hal itu tidak konstruktif.

Voltaire seorang filsuf Prancis mengatakan dengan gamblang, bahwa setiap orang akan merasa bersalah atas semua kebaikan yang tidak ia lakukan. Jadi kebaikan harus kita lakukan saat ini sekecil apapun sehingga kita semua memiliki sumbangsih dalam mengatasi pendemi ini. Niscaya pandemi ini akan berakhir.

Semoga!

Penulis : Irwan Wisanggeni

Dosen Trisakti School of Management



TERBARU

[X]
×