Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.568
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS655.000 -0,15%

Heru Pambudi, Dirjen Bea Cukai: Dengan teknologi, tak ada kecurangan lagi

Senin, 26 November 2018 / 18:52 WIB

Heru Pambudi, Dirjen Bea Cukai: Dengan teknologi, tak ada kecurangan lagi

Defisit transaksi berjalan yang terus melebar membuat pemerintah memperketat proses importasi di pelabuhan, khususnya barang konsumsi. Ditjen Bea Cukai sebagai mata pemerintah di pelabuhan harus bekerja ekstrakeras untuk mengawasi barang masuk ke Indonesia.

Tapi tentu, Ditjen Bea Cukai tetap harus fokus dengan sektor cukai khususnya rokok yang merupakan sumber penerimaan terbesar mereka.

Apa saja langkah yang akan Ditjen Bea Cukai lakukan? Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menyampaikan kepada wartawan Tabloid KONTAN Nina Dwiantika belum lama ini. Berikut nukilannya:  

KONTAN: Bagaimana peran Ditjen Bea Cukai dalam menjaga defisit transaksi berjalan tidak makin melebar?
HERU:
Untuk mendukung industri nasional, kami mesti melihat produk-produk yang bisa dibikin di dalam negeri. Sebaiknya memang, kita harus kasih atmosfer atau level playing field yang bagus.

Jangan sampai, produk dalam negeri secara tidak fair diganggu barang-barang impor sejenis dari luar negeri. Apa makna tidak fair? Sekarang, ada barang ilegal dan tidak memenuhi izin, itu semua harus kami awasi.

Ditjen Bea Cukai sendiri memiliki peran dalam menjaga transaksi berjalan. Salah satunya, melalui PMK Nomor 112/PMK.04/2018 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman yang mengatur penyesuaian pembebasan bea masuk.

Intinya adalah, salah satu strategi untuk mengurangi defisit transaksi berjalan adalah mengurangi barang-barang konsumsi.

Nah, salah satu sumber pemasukan barang konsumsi selain dari impor kargo ialah impor dari kiriman. Misalnya, barang impor datang dari kantor pos atau jasa kurir ekspres, seperti DHL dan FedEX.

Kami lihat, terjadi tren yang luar biasa atas lonjakan impor barang dari jasa kiriman itu terutama barang konsumsi. Lonjakan tersebut karena ada kecenderungan atau gejala mereka melakukan splitting (pemisahan) transaksi impor.

Sebelumnya, mereka melakukan transaksi secara wajar, kemudian menjadi dipecah-pecah dengan tujuan untuk menghindari threshold atau batasan bebas bea masuk dan pajak impor kalau nilai transaksinya di bawah US$ 100.

KONTAN: Maksudnya?
HERU:
Contoh, ada sekitar 400 transaksi yang dilakukan oleh satu orang. Caranya, mereka melakukan splitting dengan membuat nama yang berbeda-beda.

Nah, ketika importir itu melakukan 400 transaksi yang rata-rata bernilai US$ 50, maka nilai transaksi yang sebenarnya mencapai US$ 2.000. Itu, kan, lebih dari Rp 30 juta.

Kami melihat, ini sebagai satu hal yang merugikan ekonomi kita. Soalnya, transaksi di bawah US$ 100 bebas bea masuk dan pajak impor.

Dan, barang yang di bawah US$ 100 kebanyakan ada produksi dalam negerinya. Sebaliknya, barang dari dalam negeri terkena pajak di luar negeri, itulah yang disebut sebagai unfair treatment.

KONTAN: Lalu, apa yang akan Bea Cukai lakukan?


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0603 || diagnostic_web = 0.3819

Close [X]
×