kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Indonesia dan perangkap pendapatan menengah


Jumat, 30 Agustus 2019 / 11:35 WIB

Indonesia dan perangkap pendapatan menengah


Memasuki periode kedua pemerintahannya, banyak pihak berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih menguatkan pondasi ekonomi nasional agar dapat menghindarkan Indonesia dari perangkap pendapatan menengah atau middle income trap (MIT). Jika tak ada perubahan pengelolaan ekonomi yang berarti, peluang Indonesia untuk bisa lolos dari jerat pendapatan menengah hanya 18% (Basri, 2016).

Sejauh ini, meski ekonomi tumbuh, capaian perkembangan ekonomi nasional tidak secepat negara lain. Dibandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Korea Selatan, Indonesia cukup jauh tertinggal. Padahal, pada awal kemerdekaan, tingkat kesejahteraan ketiga negara hampir sama. Bahkan, China yang lebih miskin pada periode 1960-an, pendapatan per kapitanya sejak 1998 sudah menyusul Indonesia. Untuk itu, bukan hanya perbaikan, tapi percepatan dari perbaikan menjadi isu penting bagi Indonesia agar tak makin tertinggal

Perlu diketahui, alih-alih persoalan decreasing return dari akumulasi kapital, justru perlambatan produktivitas yang menurut Vivareli (2014) menjadi faktor utama penyebab negara terjerat MIT. Untuk itu, fokus pada upaya pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM), transformasi struktural, dan inovasi merupakan solusi atas permasalahan MIT.

Dalam operasionalnya, kapasitas inovasi, daya produktivitas dan kelancaran proses transformasi struktural hanya dapat ditingkatkan melalui peningkatan kualitas SDM. Hal ini pada akhirnya sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Persoalannya, meski porsi alokasi anggaran pendidikan cenderung meningkat, akan tetapi kualitas SDM Indonesia masih jauh dari optimal. Tingginya angka putus sekolah di Indonesia menjadi salah satu indikasinya. Saat ini diketahui 30 dari 100 anak usia 16-18 tahun di Indonesia tidak bersekolah (SMA/SMK).

Hal ini secara agregat dikonfirmasi oleh data rata-rata lama sekolah (RLS) Indonesia yang menunjukkan tren pertumbuhan yang lambat. Untuk laki-laki, RLS pada 2018 tercatat sebesar 8,56 tahun. Sementara RLS kelompok perempuan relatif lebih rendah, yakni 7,72 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa, secara rata-rata, masyarakat Indonesia hanya mengenyam pendidikan setingkat SMP. Ini artinya, program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan sejak 1984 belum berjalan maksimal ke seluruh wilayah di Indonesia.

Masih terbatasnya akses pendidikan membuat komposisi angkatan kerja Indonesia lebih didominasi tenaga kerja berpendidikan rendah. Kondisi ini makin diperparah dengan fokus dunia pendidikan Indonesia yang lebih menekankan pada kemampuan akademis, bukan soft skill. Alhasil, lebih dari 55% angkatan kerja yang lulus pendidikan formal tidak memiliki kompetensi khusus. Akibatnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia jadi tak kompetitif, termasuk bila dibandingkan dengan sesama negara ASEAN lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Dari sisi kesehatan, kualitas tenaga kerja di masa depan juga berpotensi tak kompetitif mengingat masih tingginya prevalensi tengkes (stunting) di Indonesia. Laporan Riset Kesehatan 2018 menunjukkan prevalensi tengkes Indonesia mencapai 30.8%, jauh melampaui prevalensi tengkes dunia sebesar 21%.

Dengan prevalensi tengkes sebesar ini, Indonesia tergolong ke dalam kelompok negara dengan kondisi tengkes terburuk di dunia bersama dengan negara-negara kawasan Afrika Sub-Sahara.

Secara medis, tengkes berbahaya karena dapat mengakibatkan perkembangan otak menjadi tidak maksimal. Alhasil, kemampuan mental dan belajar dari anak yang mengalami ini akan cenderung melemah dan memiliki prestasi sekolah yang buruk.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0006 || diagnostic_web = 0.1675

Close [X]
×