kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Insentif dan Move On

oleh Sandy Baskoro - Redaktur Pelaksana


Selasa, 07 Juli 2020 / 12:04 WIB
Insentif dan Move On
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Imbas wabah korona (Covid-19) begitu dahsyat bagi perekonomian. Kabar tak sedap datang dari sektor migas. Royal Dutch Shell Plc (Shell) berniat keluar dari Proyek Blok Masela di Provinsi Maluku.

SKK Migas telah mengonfirmasi keinginan Shell untuk melepas hak partisipasinya sebesar 35% di blok tersebut. Alasan Shell mundur dari Blok Masela lantaran kondisi arus kas mereka terdampak pandemi Covid-19. Perusahaan energi global itu memutuskan untuk fokus pada proyek lain di Indonesia.

Agaknya keputusan Shell lumrah di tengah situasi seperti ini. Toh, tak sedikit pula perusahaan migas yang melakukan renegosiasi kontrak untuk menyesuaikan target bisnis sekaligus bertahan di masa pandemi.

Harga minyak mentah acuan di pasar global masih terseok-seok. Hingga Senin (6/7) sore, harga minyak WTI kontrak Agustus 2020 di posisi US$ 40,97 per barel, melorot 29,74% year-to-date (ytd). Di periode sama, harga minyak Brent kontrak September 2020 merosot 30,35% (ytd) menjadi US$ 43,52 per barel.

Berlimpahnya pasokan tak sepadan dengan permintaan minyak di lapangan. Alhasil, harga komoditas energi fosil itu ikut tenggelam.

Secara global, investasi energi memang sedang berat. Akibat korona, The International Energy Agency (IEA) memproyeksikan total investasi energi tahun ini menyusut US$ 400 miliar setara 20% year-on-year (yoy). Padahal di awal tahun, investasi energi sempat tumbuh 2%.

Di masa pagebluk ini, pemerintah mutlak perlu turun tangan demi menahan kejatuhan bisnis migas. Para pebisnis migas tentu ingin aneka insentif, termasuk insentif perpajakan, segera mengalir.

Sambil mewujudkan insentif dengan konkret, Indonesia mesti bergegas menyiapkan skenario energi baru. Langkah ini sebagai strategi diversifikasi agar kita tak bergantung pada energi fosil demi menjaga ketahanan energi nasional.

Toh, gelombang pergeseran bisnis energi global semakin menguat. Energi baru menjadi kata kunci dalam pusaran perubahan itu. Berbagai penelitian, jurnal dan analisis global pun menampilkan prospek masa depan bisnis energi dunia. Selama dua hingga tiga dekade mendatang, energi baru terbarukan akan memegang peran dominan dalam penggunaan energi global.

Menyikapi hal ini, sudah sewajarnya apabila pemerintah cepat menjalankan skenario move on dari energi fosil ke energi baru. Apalagi pemerintah bertekad mendorong porsi pembangkit EBT mencapai 23% pada tahun 2025.

Penulis : Sandy Baskoro

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×