kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Investor Ritel

oleh Thomas Hadiwinata - Redaktur Pelaksana


Jumat, 09 Oktober 2020 / 09:48 WIB
Investor Ritel
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Risiko ketidakpastian yang muncul sejak pandemi Covid 19 menjadi alasan pemodal kelas global mencairkan aset-asetnya. Di berbagai pasar keuangan, arus mudik dana terlihat jelas.

Situasi serupa terlihat juga di Indonesia. Mengutip kontan.co.id, dana asing yang mengalir keluar sejak awal tahun hingga akhir September mencapai Rp 58 triliun.

Harga aset-aset keuangan, yang semula menjadi tempat parkir dana-dana asing ini, otomatis melorot. Penurunan harga saham-saham itu tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Keuangan (IHSG) di tahun ini yang mencapai 20,18% hingga Kamis (8/10) kemarin.

Di banyak bursa saham, kepergian para pemain global digantikan oleh investor ritel. Situasi ini terjadi juga di Bursa Efek Indonesia (BEI) jika kita mencermati kabar tentang nilai transaksi per brokerage dan peningkatan jumlah single investor identification (SID).

Pasar brokerage saham di tahun ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang besar di pasar ritel. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjadi sekuritas dengan nilai brokerage terbesar di tahun ini. Dengan nilai transaksi sejak awal tahun hingga September mencapai Rp 227,13 triliun, Mirae menggenggam 7,98% pangsa pasar transaksi saham. Di tempat kedua, Mandiri Sekuritas, yang juga memiliki aplikasi perdagangan ritel. Pangsa pasar Mandiri setara dengan Mirae.

Jejak peningkatan aktivitas investor ritel di bursa juga terlihat dari jumlah SID. Menurut catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia, jumlah SID kini mencapai 1,2 juta, meningkat 12% dari akhir tahun lalu.

Di saat harga-harga saham terpangkas, akibat kepergian investor kakap, wajar bila pemilik dana kelas eceran masuk. Mereka tentu tergoda untuk menyerok saham-saham yang harganya di masa kini relatif rendah dibandingkan harganya di masa lalu.

Namun para investor ritel yang baru masuk di masa sekarang tetap harus hati-hati. Memang, banyak saham yang secara historis terlihat murah. Namun pertimbangkan juga kemungkinan perubahan kinerja emiten itu, akibat perubahan makro, seperti penurunan daya beli.

Dan yang lebih penting lagi, para investor ritel newbie harus kuat menahan godaan membeli saham yang terlihat murah. Jangan kalap memborong saham hingga tak ada lagi dana yang tersisa untuk kebutuhan darurat. Jika abai melakukan money management, kiprah si investor ritel bisa dipastikan tidak akan berumur panjang.

Penulis : Thomas Hadiwinata

Redaktur Pelaksana


Tag

TERBARU

[X]
×