kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Jakarta, ibu kota baru, dan properti


Rabu, 11 September 2019 / 09:25 WIB

Jakarta, ibu kota baru, dan properti


Dari sisi perumahan, backlog di DKI Jakarta berpotensi membaik. Melalui Susenas 2018, Mandiri mengestimasikan terdapat 44,2% rumah tangga di DKI Jakarta yang belum memiliki rumah sendiri. Secara proporsi, berkurangnya penduduk Jakarta dapat membuat konsentrasi backlog membaik meski belum menyelesaikan masalah backlog nasional.

Pasokan pada ruang perkantoran hampir dipastikan bertambah. Mengutip publikasi Leads Property terdapat sekitar 10,54 juta m perkantoran di DKI Jakarta pada 2Q19, terdiri dari 6,76 juta m di area Central Business District (CBD) dan 3,78 juta m di luar CBD dengan rata-rata okupansi masing-masing 75,9% dan 81,6%.

Dengan kata lain, saat ini perkantoran berada dalam kondisi excess supply mengingat sekitar 2,32 juta m area perkantoran di DKI Jakarta belum terisi. Dengan estimasi luas ruang kerja-gerak minimal per orang sebesar 4 m–6 m, maka akan ada tambahan pasokan 400.000 m–600.000 m untuk setiap 100.000 pegawai yang pindah ke luar DKI Jakarta.

Mengingat DKI Jakarta akan terus diusung sebagai pusat bisnis, usaha mentransformasi area kerja pemerintahan pusat menjadi area kerja komersial perlu dilakukan. Selain itu, perlu insentif bagi pelaku usaha untuk terus berada di DKI Jakarta. Tentunya hal ini menjadi tantangan seiring program pemerintah untuk juga membangun 10 metropolitan baru di empat lokasi di luar Jakarta. Selain itu, penambahan pasokan berpotensi menekan harga jual dan/atau sewa perkantoran.

Lebih jauh, properti perhotelan juga harus ditargetkan untuk lebih atraktif. Meski tingkat okupansi perhotelan di DKI Jakarta tertinggi di Indonesia mencapai 66,87% (2018), jauh di atas rata-rata nasional di 57,13%, bergesernya ibu kota bisa mengurangi kegiatan meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) dan menurunkan tingkat okupansi.

Sebagai ganti kegiatan pusat pemerintahan, DKI Jakarta dapat memaksimalkan fasilitas pendukung yang sudah ada. Misalnya lahan perkantoran dan sarana olahraga berskala internasional dalam penyelenggaraan kegiatan yang berpotensi mendorong pariwisata dan perhotelan.

Dengan mendahulukan identifikasi secara menyeluruh, peluang properti di DKI Jakarta pasca-pemindahan ibu kota negara diharapkan dapat berjalan dengan masa transisi yang lancar.♦

Mufti Faisal Hakim
Industry Analyst Bank Mandiri


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0007 || diagnostic_web = 0.1470

Close [X]
×