kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.945
  • EMAS704.000 -1,40%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Jokowi-Ma'ruf dan tantangan ekonomi mendatang


Rabu, 03 Juli 2019 / 13:10 WIB

Jokowi-Ma'ruf dan tantangan ekonomi mendatang

Keputusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 membuat pasangan Jokowi-Maruf secara sah menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan. Respons pelaku pasar menunjukkan keputusan ini sudah di-priced in dan tercermin dari kinerja indeks saham beberapa minggu terakhir. Risiko jangka pendek politik mengecil, namun kita harus melihat kebijakan strategis apa untuk memajukan ekonomi Indonesia lima tahun ke depan.

Sebelumnya pada kolom ini saya menulis tentang pentingnya industri manufaktur untuk menghindari middle-income trap. Dengan pendapatan per kapita US$ 3.927 pada 2018, Indonesia masuk kategori negara pendapatan menengah ke atas. Untuk masuk dalam negara pendapatan tinggi, Indonesia perlu industri manufaktur tumbuh di atas 5% untuk menghindari jebakan tersebut.

Industri manufaktur dapat berperan sebagai sektor transisi dalam transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan keterkaitan antar-sektor. Selain itu, manufaktur adalah sektor yang paling dapat memanfaatkan perbaikan infrastruktur dan penurunan biaya logistik.

Dalam visi Nawacita Jilid II, industri manufaktur menjadi salah satu program ekonomi yang berfokus pada hilirisasi industri, pemberian insentif investasi dan revitalisasi industri. Beberapa hal itu sudah dilakukan pemerintah dengan menerbitkan insentif yang lebih menarik terkait tax holiday dan tax incentives.

Perpanjangan jangka waktu libur pajak serta peningkatan besaran dan cakupan insentif fiskal merupakan hal yang diperlukan oleh sektor swasta. Namun, sebagai salah satu solusi terhadap defisit neraca perdagangan belakangan ini, pemerintah juga perlu menambah kriteria jumlah atau persentase ekspor ke dalam skema libur pajak dan insentif fiskal. Korporasi besar berbasis ekspor akan tertarik menanamkan modalnya pada industri manufaktur Indonesia. Dalam jangka panjang, tentu saja hal ini juga memperkuat dan dapat mendiversifikasi struktur ekspor Indonesia.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok tetap menjadi risiko jangka menengah bagi neraca perdagangan dan indikator makroekonomi lainnya. Pada Mei 2019, ekspor Indonesia kontraksi 9% dibandingkan Mei sebelumnya. Tetapi ada beberapa hal menarik yang perlu dicermati terkait kinerja ekspor beberapa bulan terakhir. Terlepas dari faktor lain, ekspor Mei 2019 naik 12,4% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini terjadi hampir di seluruh sektor ekonomi. Ekspor tujuan AS dan Tiongkok tercatat naik US$ 179,2 juta dan US$ 153,3 juta.Hal ini mengindikasikan Indonesia sebenarnya bisa memanfaatkan kondisi global yang tak kondusif menjadi peluang meningkatkan ekspor ke negara yang terlibat perang dagang.

Kenaikan signifikan ekspor perhiasan dan pakaian jadi menjadi bukti product competitiveness Indonesia meningkat di pasar global. Oleh karenanya, pemerintah perlu lebih tanggap dan cepat merespons perubahan situasi terkait perang dagang. Market intelligence di beberapa pasar utama seperti AS, Tiongkok, India, Eropa dan Timur Tengah perlu ditingkatkan dan ditindaklanjuti. Beberapa produk atau komoditas Indonesia yang berpotensi di pasar global adalah produk turunan kelapa, kertas dan plywood.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0568 || diagnostic_web = 0.3158

Close [X]
×