kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45754,18   -2,20   -0.29%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kampanye Peti Mati


Jumat, 04 September 2020 / 12:25 WIB
Kampanye Peti Mati

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Dalam dua hari terakhir ini bagi Anda warga Jakarta atau Anda yang melintas di perkampungan - perkampungan wilayah DKI Jakarta akan menemukan monumen peti mati di titik-titik keramaian. Monumen peti mati ini tentu bukan menggantikan lambang tugu monas sebagai ciri khas Ibukota Jakarta, atau patung elang bondol yang jadi maskot kota Jakarta.

Pada monumen peti mati ala pemerintah provinsi DKI Jakarta ini tertera update jumlah kasus positif virus korona di wilayah tersebut, berikut dengan data kematian maupun laporan warga yang sembuh. Ya cara ini sebagai salah satu ikhtiar untuk menggugah kepedulian warga Jakarta akan bahaya nyata infeksi virus korona Covid-19.

Seperti kita tahu, 2 September kemarin tepat enam bulan Pemerintah mengumumkan adanya kasus pertama infeksi virus korona Covid-19 di Indonesia. Hanya dalam enam bulan jumlah kasus positif korona Covid-19 di Indonesia hingga 3 September mencapai 184.268 kasus.

Tingkat kesembuhan rata-rata mencapai 71,7% atau di atas rata-rata global yang mencapai 66,6%. Lalu tingkat kematian pasien korona Covid-19 di Indonesia total mencapai 7.750 atau 4,2% dari total kasus positif, atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kematian global yang hanya sekitar 3,32%.

Khusus DKI Jakarta, pada 3 September kemarin, jumlah kasus positif sudah mencapai 43.400 orang. Sementara tingkat kematian pasien korona di Jakarta sebesar 1.246 atau setara dengan 2,9%, jauh lebih kecil dari rata-rata nasional. Sedangkan jumlah pasien sembuh sebanyak 32.441 atau setara 74,7% dari total kasus positif korona di Jakarta.

Angka kesembuhan dan rendahnya kematian ini tentu tak cukup melegakan, karena kasus baru bertambah makin pesat. Tingkat keterisian unit gawat darurat di rumah sakit Jakarta juga makin sesak. Sampai 30 Agustus 67 Rumah Sakit rujukan di Jakarta sudah 81% terisi, lalu ruang isolasi juga terisi 74%.

Di sisi lain makin banyak warga yang tidak betah dan mengabaikan protokol kesehatan, baik disiplin pakai masker, mencuci tangan, atau menghindari kerumunan. Semoga shock terapi dengan menghukum pelanggaran protokol kesehatan dengan tidur di peti mati, bisa meningkatkan kesadaran warga yang sudah tidak mempan dengan pidato-pidato imbauan pejabat seperti gubernur bahkan presiden. Kalau tidak mempan juga, DKI Jakarta bisa meningkatkan intensitas kampanye tak sekadar peti mati tapi hukuman pocong bagi pelanggar aturan.

Penulis : Syamsul Ashar

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×