kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Karena Korona: How Low Can It Go, IHSG?

oleh Roy Sembel - Profesor Keuangan dan Investasi IPMI International Business School


Kamis, 26 Maret 2020 / 12:41 WIB
Karena Korona: How Low Can It Go, IHSG?
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - How low can it go? Demikian pertanyaan yang 'kembali' menghantui banyak investor pasar modal, khususnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah badai keuangan dan ekonomi saat ini. Mengapa ada kata kembali? Pada tahun 1987-1989 (Black Monday dan Black Friday the 13th Stock Market Crash), 1997-1999 (Krisis Asia, Rusia, dan Long Term Capital Management), dan 2007-2009 (Sub-prime Mortgage Crisis), penulis juga pernah menghadapi pertanyaan yang sama dari banyak investor di pasar modal. Tahun 1989, penulis masih menjadi mahasiswa S2 yang sedang belajar keuangan di The Wharton School, University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat (AS) sehingga belum mengalami langsung gejolak di lapangan dan belum paham betul apa yang sedang terjadi saat itu.

Tahun 1997-1999 dan 2008-2009, penulis sudah menjadi akademisi dan praktisi keuangan dan investasi sehingga mengalami langsung badai yang berkecamuk saat itu, dan sempat menulis artikel tentang topik itu. Judul artikel pada tahun 1999 "Skenario IHSG", tahun 2008 "Menghitung Batas Rock Bottom IHSG".

Menghadapi situasi yang mirip dengan situasi pada ketiga era tersebut (dan juga karena sedang WFH/Work From Home), penulis jadi terpicu (dan punya waktu luang) untuk kembali menulis artikel dengan topik yang sama.

Efek Korona

Jika dibandingkan dengan titik tertingginya (6.660,62) pada 26 Januari 2018, IHSG Senin (24/3/2020) lalu ditutup sudah turun 40,88% menjadi 3.937,63. Saham-saham Blue Chip pada LQ45, anjlok lebih besar lagi, dari level tertinggi 1.126,36 pada 26 Januari 2018 menjadi 566,83, atau terpangkas sekitar 49,68%. Dampaknya, total nilai kapitalisasi pasar (nilai keseluruhan saham) di BEI telah turun Rp 2.846 triliun (38,45%) dari titik tertingginya Rp 7.402 triliun (26/1/2018) menjadi Rp 4.556 triliun (24/3/2020). Sebagai gambaran, penurunan nilai kapitalisasi pasar itu lebih besar dibandingkan dengan APBN Indonesia 2019, yaitu Rp 2.461,1 triliun.

Pada periode yang sama, rupiah pun ikut berempati melemah (hampir 25%) terhadap dollar AS dari level 13.300 sempat ke level di atas 16.500 per dollar AS. Akibat kombinasi penurunan IHSG dan pelemahan rupiah, nilai kapitalisasi pasar BEI dalam satuan dollar AS telah sempat melemah sekitar 53%.

Dalam hal kerontokan bursa, Indonesia tidak sendiri. Indeks DJIA di AS, Nikkei 225 di Jepang, dan juga di banyak pasar modal negara lain (China, Inggris, Jerman, Singapura, Malaysia, Thailand, dll), terpuruk sekitar 30% sampai 50% dari titik tertingginya. Indeks DJIA 23/3/2020 di level 18.591 mirip dengan indeks DJIA pada November 2016. Berarti Bursa AS mundur hampir 4 tahun.

Tak heran jika Investor gundah gulana. Kapan penurunan ini akan berhenti? Pada level berapa titik nadir IHSG, dan akan mulai berbalik arah? Pertanyaan-pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab. Kalimat populer You can always tell when a stock has hit bottom, hanyalah ilusi belaka.

Peter Lynch, mantan manajer mega reksadana terbesar di AS, Fidelity Magellan, dan pernah dijuluki sebagai manajer duit nomor satu di dunia oleh majalah Time, menegaskan bahwa tak ada orang yang bisa secara akurat meramalkan kapan harga saham akan berbalik arah. Kendati hampir mustahil untuk menentukan kapan IHSG akan berbalik arah, kita tetap bisa belajar dari perilaku pergerakan pasar masa lalu di masa krisis untuk mendapat gambaran (bukan untuk meramal secara akurat) potensi batas bawah terburuk dari harga-harga di bursa saham.

Refleksi krisis 1998 & 2008

Untuk mendapat gambaran potensi rock-bottom level dari IHSG, kita bisa bercermin pada situasi krisis tahun 1998 dan 2008. Pada tahun 1998, IHSG sempat mencapai titik terendah pada level 255,46 pada bulan September 1998. Sementara itu, sebelum krisis, IHSG sempat mencapai level tertinggi 742,95 pada awal bulan Juli 1997.

Jadi, dibandingkan dengan titik tertingginya, IHSG terpuruk sebesar 65,6% dalam tempo sekitar 14 bulan (Juli 1997-September 1998). Bila angka penurunan 65,6% ini kita pakai sebagai patokan penurunan terburuk, maka rock bottom level IHSG pada krisis 2020 ini akan menjadi 2.291,25.

Pada tahun 2008, titik nadir IHSG terjadi pada 28 Oktober di level 1.111,39. Titik tertinggi sebelumya adalah 2.830,26 pada 9 Januari 2008. Artinya, pada krisis 2008 terjadi penurunan dari titik tertinggi ke titik terendah sebesar 60,73%. Menggunakan angka penurunan 60,73% ini, maka rock bottom level IHSG pada krisis 2020 ini akan menjadi 2.615,63.

Dengan menggunakan metode normal return yang sejalan dengan pertumbuhan normal PDB nominal yaitu sekitar 11% per tahun (laju inflasi, yaitu sekitar 3%-8% per tahun, ditambah pertumbuhan PDB riil sekitar 4,5%-6,5% per tahun), bila dihitung dari saat IHSG titik nadir di level 1.111,39 tahun 2008, maka gambaran potensi level batas bawah IHSG sesuai fundamental ekonomi makro yang bergerak selama 11,5 tahun adalah 1111,39 x 1,11 (11,5) = 3.690,46.

Dari hitung-hitungan sederhana tersebut, tampaknya angka sekitar 2.300 menjadi angka worst-case scenario (skenario paling pesimistis) untuk rock-bottom level (level terburuk) IHSG, sementara skenario atasnya untuk level terburuk IHSG adalah sekitar 3.700. Perlu sekali lagi ditekankan bahwa ini adalah hanya perkiraan kasar skenario stress test level terburuk, dan seperti ditegaskan oleh Peter Lynch, tak ada orang yang bisa meramalkan dengan akurat kapan harga saham akan mulai berbalik arah. Bisa saja, sesuai harapan banyak orang, IHSG sudah berbalik arah dan kembali naik jauh sebelum angka terburuk tersebut dicapai.

Secercah harapan

Setelah kabar buruk disampaikan, sekarang giliran kabar baiknya. Krisis 2020 berbeda dari krisis 1998 dan 2008 dalam banyak indikator. Beberapa indikator fundamental ekonomi makro Indonesia pada 2020 sudah lebih baik dibandingkan dengan indikator 1998 dan 2008.

Total PDB yang mencerminkan total belanja keluarga, perusahaan, pemerintah, dan netto ekspor impor) Indonesia di 2019 ada pada level Rp 15.833,4 triliun, lebih dari 16 kali lipat PDB 1998 Rp 935,7 triliun, dan lebih dari 3 kali lipat PDB 2008 Rp 4.954,0 triliun. Inflasi pada 2019 dan data terakhir pada Februari 2020 terkendali di sekitar 3%, lebih baik ketimbang inflasi 1998 77,60% dan 2008 11,06%. Demikian pula tingkat bunga patokan deposito bank yang terkendali di level sekitar 5% pada 2019-2020, dibandingkan tingkat bunga 1998 dan 2008.

Selanjutnya, harga minyak dunia per akhir minggu lalu berada pada level sekitar US$ 30 per barel. Harga minyak dunia yang relatif rendah ini diharapkan dapat sedikit memberi kelonggaran pada dunia bisnis khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Selanjutnya, pemerintah dari beberapa negara besar telah kompak memutuskan untuk mengalokasikan dana senilai puluhan ribu triliun Rupiah untuk bersatu melawan krisis ekonomi dunia.

Penulis : Roy Sembel

Profesor Keuangan dan Investasi IPMI International Business School




Close [X]
×