kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,71   -11,32   -1.32%
  • EMAS943.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.29%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kartini dan Penguatan UMKM Wanita

oleh Meithiana Indrasari - Wakil Rektor Universitas Dr Soetomo Surabaya


Kamis, 22 April 2021 / 15:15 WIB
Kartini dan Penguatan UMKM Wanita
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Peringatan Hari Kartini tahun ini sebaiknya dimaknai dengan penguatan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) wanita. Tak bisa dimungkiri bahwa kaum wanita sangat rentan terhadap dampak pandemi Covid-19, namun wanita juga berperan signifikan dalam upaya menghalau krisis akibat pandemi.

Hari Kartini merupakan momentum untuk meningkatkan peran pelaku UMKM wanita yang jumlahnya terus bertambah. Butuh perhatian pemerintah karena masih banyak UMKM yang dikelola perempuan belum mendapatkan perhatian serius.

Selama pandemi Covid-19 jumlah pelaku usaha wanita meningkat. Sebelum pandemi, riset Sasakawa Peace Foundation & Dalberg menyebutkan persentase wirausaha wanita di Indonesia cukup tinggi yaitu 21%. Jumlah ini jauh lebih tinggi di atas rata-rata global yang mencapai 8%.

Banyak wanita yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi lalu beralih menjadi pelaku UMKM. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan jumlah usaha mikro yang dikelola oleh wanita pada tahun lalu mencapai 14 juta unit Sedangkan di tahun ini berdasarkan data penelitian International Finance Corporation (IFC) jumlahnya mencapai 30,6 juta unit.

Hari Kartini memberi makna untuk meneguhkan bangsa dalam menata dan meningkatkan martabat kaum wanita lewat kesempatan berusaha. Ada teori sosial yang menyatakan bahwa memberikan kesempatan berusaha yang baik bagi wanita sama dengan menata masa depan yang lebih cerah bagi suatu bangsa.

Peran wanita dalam menghalau krisis ekonomi sangat besar. Tak bisa dimungkiri, selama ini ibu memiliki instrumen penghalau krisis yang hebat. Sayangnya usaha keras wanita untuk menghalau bermacam krisis masih terkendala. Kaum ibu yang menggenjot produktivitas dengan membanting tulang justru kurang mendapat perlindungan dan intensif konkrit dari penyelenggara negara.

Semakin banyak wanita yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Juga semakin banyak wanita yang menjadi eksekutif di berbagai perusahaan dan proses bisnis. Itulah mengapa McKinsey, konsultan terkemuka dunia dalam laporannya yang berjudul How Helping Women Helps Business secara garis besar menyatakan bahwa wanita telah berperan yang sangat besar dalam meningkatkan hingga 2% Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

Momentum transformasi

Kini UMKM telah menjadi jargon pembangunan. Terlalu banyak seminar dan rapat-rapat yang membahas UMKM. Sederet program lintas kementerian dan pemerintah daerah telah dibuat. Namun berbagai program ini nuansanya masih copy paste dan tumpang tindih.

Lalu dimanakah posisi penguatan pelaku UMKM wanita ketika pemerintah tengah euforia dengan Undang-Undang Nomor. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang menetapkan alokasi 40 % dari belanja setiap tahunnya untuk menyerap produk-produk UMKM dari seluruh penjuru tanah air (Pasal 97).

Dengan pendekatan ini, produk UMKM Indonesia mestinya mendominasi pengadaan barang dan jasa pemerintah. Ironisnya fenomena Mr.Hu yang pernah heboh beberapa waktu yang lalu justru menunjukkan bahwa ekosistem digital kurang menguntungkan UMKM.

Sekadar catatan bahwa inisial Mr Hu adalah salah satu seller dari China yang menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga dengan harga sangat murah.

Mr Hu selalu mengirimkan barang dagangannya dari alamat di Guangzhou, China. Seller ini hanya ada di Shopee dan tidak ada di marketplace lain. Ternyata dengan harga yang dibanting sangat murah oleh Mr Hu menyebabkan masyarakat yang lebih tertarik untuk membelinya ketimbang produk UMKM Indonesia. Kondisi itu tentu akan menjatuhkan UMKM yang saat ini sudah terpukul pandemi Covid-19.

Fenomena ini sangat ironis ketika pemerintah getol kampanye Bangga Beli Produk UMKM Indonesia dengan cara mengantarkan sebanyak 4,2 juta UMKM masuk ke dalam ekosistem digital.

Ironisme penguatan UMKM juga terlihat dari rasio kredit perbankan untuk UMKM sesuai Peraturan Bank Indonesia No 17/12/PBI/2015 tentang Pemberian Kredit, atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang hanya 20%. Jauh di bawah Thailand yang sudah 30%, China 60%, atau bahkan Korea Selatan di 81%.

Peringatan hari Kartini 2021 merupakan momentum untuk transformasi diri bagi pelaku UMKM wanita karena proses bisnis dan teknik produksi bergerak sangat dinamis. Sehingga memungkinkan terjadinya perubahan proses, bahkan hingga saat-saat akhir sebuah proses produksi.

Era di atas menghasilkan cara-cara baru untuk menciptakan nilai dan model bisnis baru. Hal diatas mendorong kaum wanita untuk menggeluti usaha rintisan atau start-up. Dan membuat UMKM untuk menyediakan layanan di sisi hilir produksi.

Tantangan Kartini 4.0 yang sudah didepan mata adalah masalah perubahan lapangan kerja yang semakin berbasis aplikasi digital. Semua jenis profesi menuju pekerjaan yang bersifat online. Dari perekrutan tenaga kerja hingga metode bekerja semua dilakukan secara online. Akibatnya pasal perjanjian kerja dan beban kerja berubah secara total. Pasal hak-hak normatif pekerja sudah sirna digantikan dengan aturan yang dikontrol oleh sistem digital.

Perlu memperluas lapangan kerja dan menumbuhkan profesi baru yang terkait dengan wanita. Serta pemberian insentif bagi para perempuan kreatif yang telah berkarya didalam negeri maupun di luar negeri.

Kartini 4.0 perlu regulasi yang selama ini menghambat aktivitasnya di sektor ekonomi kreatif. Jangan ada lagi resistensi dan pembatasan dibeberapa tempat terkait dengan bidang usaha wanita, utamaya di sektor ekonomi kreatif.

Dimasa mendatang semakin banyak Kartini 4.0 yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Juga menjadi tulang punggung perekonomian bangsa. Mereka menjadi pemimpin di berbagai start-up dan menjadi pencipta model bisnis baru.

Tantangan Kartini 4.0 yang paling menjanjikan adalah menggeluti ekonomi kreatif. Gambaran singkat kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank setiap tahunnya mencapai pertumbuhan 9%. Malahan ada negara yang mengalami pertumbuhan hingga 15%, antara lain Inggris. Tak pelak lagi, lima tahun terakhir sekitar 7,5% PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif. Pekerja kreatif akan terus tumbuh rata-rata di atas 7% setiap tahun.

Penulis : Meithiana Indrasari

Wakil Rektor Universitas Dr.Soetomo, Surabaya




TERBARU

[X]
×