kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Keadilan bagi peternak unggas


Kamis, 12 September 2019 / 10:25 WIB

Keadilan bagi peternak unggas


Unggas, khususnya ayam dan telur adalah penyumbang terbesar kebutuhan protein rakyat Indonesia. Kontribusinya hampir 70% dibandingkan dengan protein dari komoditas ternak lainnya. Selain itu, daging ayam dan telur harga lebih terjangkau ketimbang ikan sekalipun.

Produksi ayam di Indonesia saat ini mencapai 3,7 miliar ekor per tahun dengan kenaikan rata-rata 5%. Sedangkan produksi daging ayamnya (karkas) sekitar 4,8 juta ton sehingga konsumsi per kapita rata-rata 14 kg.

Kendati konsumsi per kapita daging ayam masih rendah dari negara-negara di ASEAN, produksi ayam Indonesia termasuk yang terbesar di Asia, setelah China, India dan Thailand. Produksi Indonesia juga masuk 10 besar dunia.

Dari angka-angka dan posisi itu, kelihatannya industri perunggasan kita sangat prospektif dan menggiurkan. Kapitalisasi dari produksi dan perdagangan ayam ras mulai dari hulu sampai hilir mencapai Rp 500 triliun.

Demikian pula di lantai bursa. Harga saham perusahaan-perusahaan berbasis peternakan ayam masing kinclong kendati turun.

Namun setahun terakhir kondisi riil peternakan ayam ras tidak merefleksikan fakta-fakta di atas. Peternak justru sedang menuju jurang kehancuran. Harga ayam hidup yang mereka produksi terus melorot di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Peternak terpaksa menjual ayam Rp 8.000 per kg sedangkan HPP Rp 18.500 per kg. Ironisnya, harga yang kelewat rendah itu tidak berlaku di pasar. Konsumen tetap membeli ayam di atas Rp 30.000 kg.

Peternak harus melakukan beberapa cara untuk bangkit. Mulai dari cara persuasif ke pemerintah sampai unjuk rasa. Dua bulan lalu, peternak ayam di Jawa Tengah melakukan unjuk rasa yang fenomenal dengan membagikan ribuan ayam gratis ke masyarakat. Hasilnya, memang harga sempat terdongkrak tapi hanya sekejap.

Kini harga ayam malah meluncur lebih kencang. Seekor ayam harganya masih di bawah harga sebungkus rokok. Peternak kembali unjuk rasa membagi-bagikan ayam gratis. Lebih dari sembilan bulan bukan waktu yang singkat untuk menanggung kerugian. Utang modal dan pakan tak terbayar dan upah pekerja tidak boleh terlambat dibayarkan. Ini menjadi beban berat bagi peternak rakyat atau peternak mandiri.

Jika tidak melanjutkan usahanya maka utang modal di bank dan utang pakan ke pabrik mau dibayar pakai apa? Bagaimana nasib pekerja dan keluarga jika harus di PHK.

Apa yang mereka lakukan sebagai upaya mempertahankan hidup dan kehidupan usaha peternakan. Konstitusi negara menjamin hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi hidup dan kehidupan setiap warga negara dan kebebasan menyatakan pendapat di muka umum.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0032 || diagnostic_web = 0.1509

Close [X]
×