kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.163
  • SUN95,28 0,51%
  • EMAS661.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.08%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Kelangsungan usaha pascabencana

Jumat, 04 Januari 2019 / 14:55 WIB

Kelangsungan usaha pascabencana


Sejumlah peristiwa bencana alam Tanah Air perlu juga dibaca sebagai urgensi peningkatan resiliensi atau kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam kondisi dan situasi sulit. Khususnya bagi sebuah perusahaan dalam menghadapi risiko operasional mereka. Dari sudut pandang yang lain, hal ini dilihat sebagai kemampuan dari sebuah perusahaan untuk segera bangkit, dari dampak bencana akan membantu pemulihan pascabencana di wilayah tersebut.

Ketika suatu perusahaan lumpuh diterjang bencana, sebagaimana tsunami Selat Sunda, atau gempa bumi yang disusul dengan likuifaksi di Palu Sulawesi Tengah yang terjadi sebelumnya, yang dihadapi oleh perusahaan bukan saja kerusakan aset (bangunan, peralatan kantor, mobil, dll). Bukan juga hilangnya sumber daya manusia akibat kematian atau cedera berat. Namun, perusahaan juga mengalami kerugian akibat lumpuhnya wilayah tempat mereka bekerja dan beroperasi, baik dalam sosial, ekonomi dan pemerintahan akibat bencana.

Sebagaimana dikutip Eric Krell dalam bukunya Business Continuity Management (2006), riset University of Minnesota menemukan, sekitar 90% perusahaan yang tidak dapat bangkit setelah 10 hari mengalami kerusakan critical system akibat bencana, karena mereka mengalami kebangkrutan setelah diterpa bencana.

Studi lain menemukan, 90% organisasi yang mengalami kehilangan data dan peralatan yang sangat parah akibat bencana sehingga mereka tidak memiliki rencana kelanjutan usaha atau business continuity plan yang disingkat dengan BCP, usianya hanya bertahan 24 bulan kemudian setelah terjadinya bencana.

Karena itu, mengingat negeri kita berada di daerah cincin Api yang rawan bencana, manajemen kelanjutan usaha atau business continuity management (BCM) sebagai bagian dari manajemen risiko menjadi keharusan untuk dimiliki oleh dunia usaha Indonesia. BCM tidak saja berfungsi untuk memitigasi bencana dan dampak bencana, namun yang lebih penting adalah BCM membangun kesiapan dan kapabilitas perusahaan dalam menghadapi bencana alam. Dengan BCM bisa memandu perusahaan mulai dari antisipasi dan mitigasi risiko bencana, penanganan tanggap darurat, dan rekonstruksi serta pemulihan operasi pasca bencana.

BCM harus dikembangkan bukan sekadar bermotivasi kepatuhan, melainkan menjadi keunggulan daya saing perusahaan. Dengan BCM perusahaan dapat melakukan analisis dampak bencana yang lebih terukur dan menemukan inefisiensi dalam proses antisipasi dan mitigasi bencana, bahkan dalam proses bisnis secara umum.

Implementasi BCM juga memberi kepastian kelanjutan operasional yang memberi ketenangan kepada pelanggan. Mempertahankan pelanggan memang tidak mudah, namun jauh lebih murah dibandingkan dengan mencari pelanggan baru. Dengan kepastian operasi pascabencana, kemungkinan hilangnya pelanggan dapat ditekan.

Lebih jauh lagi, kelanjutan usaha pasca bencana yang terkelola dengan baik akan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan serta kepercayaan dan moral pegawai yang tentu juga terdampak oleh bencana tersebut.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0028 || diagnostic_api_kanan = 0.0532 || diagnostic_web = 0.4491

Close [X]
×