kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Kenormalan Baru Bernama Bank Digital

oleh Remon Samora - Analis Bank Indonesia Provinsi Papua Barat


Jumat, 19 Juni 2020 / 11:02 WIB
Kenormalan Baru Bernama Bank Digital
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Industri perbankan Tanah Air akan segera kedatangan pemain bank digital baru. Bank Central Asia (BCA) dikabarkan akan melakukan rebranding Bank Royal menjadi Bank Digital BCA pada semester kedua tahun ini. Pasca aksi akuisisi pada awal November 2019, BCA akan memfokuskan anak usahanya dalam menggarap sektor ritel dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara digital.

Secara sederhana, bank digital dapat didefinisikan sebagai bank yang beroperasi secara digital menggunakan platform. Bank tersebut tidak memiliki kantor cabang fisik (branchless banking), namun tetap dapat beroperasi normal selayaknya bank konvensional pada umumnya. Implikasinya, terjadi efisiensi biaya operasional berupa penghematan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dan pemeliharaan aset fisik. Hal ini kemudian akan membuka ruang lebih bagi perbankan untuk meningkatkan suku bunga simpanan dan menurunkan suku bunga pinjaman.

Dari perspektif makroekonomi, kehadiran bank digital diharapkan mampu menjadi pendorong tingkat inklusi keuangan Indonesia yang masih rendah. Mengutip laporan "E-conomy SEA 2019," yang disusun Google, Temasek dan Bain & Company, ada 51% penduduk Indonesia yang masuk ke golongan unbanked (belum mendapatkan akses layanan perbankan).

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk unbanked terbesar di ASEAN yaitu sebanyak 92 juta jiwa. Meskipun terdengar kurang positif, namun di sisi lain situasi ini justru memberikan gambaran peluang pengembangan bank digital dalam jangka panjang.

Bak gayung bersambut, nasabah perbankan Indonesia terbilang paling siap menyambut layanan perbankan digital dibandingkan negara lain di ASEAN. McKinsey melakukan survei terhadap lebih dari 900 responden nasabah bank di Indonesia pada 2017. Hasilnya hampir enam dari 10 nasabah perbankan Indonesia antusias untuk menggunakan layanan perbankan digital. Jumlah ini melampaui negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Dalam konteks studi kasus BCA, kehadiran bank digital menjadi strategi manajemen dalam menjawab tantangan disrupsi yang ada. Harus diakui kemajuan teknologi telah mengubah preferensi masyarakat dalam bertransaksi. BCA mencatat 71% nasabah bertransaksi melalui mesin ATM, 17% melalui kantor cabang dan sisanya melalui internet banking pada 2007. Setelah lebih dari satu dekade berselang, saat ini 75% nasabah bertransaksi melalui mobile banking dan internet banking, serta 23% melalui mesin ATM. Peran kantor cabang makin minim hanya 1,8% saja.

Kemunculan pemain teknologi finansial (tekfin) menjadi faktor krusial lain yang tidak boleh dilupakan. Misalnya saja, di bidang sistem pembayaran, perusahaan riset tekfin global, Rapyd dalam laporan survei bertajuk "Asia Pacific E-Commerce and Payment Guide 2020" menempatkan Ovo dan Gopay sebagai alat pembayaran yang paling sering digunakan. Menariknya, angka yang diraih kedua dompet elektronik tersebut, masing-masing sebesar 69% dan 62% atau ekuivalen dengan dua kali lipat rata-rata angka yang diraih bank umum raksasa, yakni berkisar 24%-39%.

Fenomena bank 4.0

Eksistensi bank digital sejatinya bukanlah barang baru di tingkat Asia. Singapura dikabarkan akan menerbitkan lima lisensi bank digital untuk korporasi non perbankan. Pengumuman akan dilakukan pada Juni 2020 dan kelima perusahaan terpilih diharapkan dapat segera memulai bisnisnya pada pertengahan 2021. Sementara itu, Filipina telah memberikan empat lisensi bank digital untuk Bank CIMB, ING Bank, Tonik dan Rizal Commercial Banking Corporation (RCBC). Thailand juga sudah memiliki bank digital bernama Timo yang dirilis pada 2016.

Fenomena pergeseran menuju bank digital yang terjadi saat ini pada dasarnya telah diprediksi sebelumnya oleh Brett King (2018) dalam buku "Bank 4.0: Banking Everywhere, Never at a Bank". Sebuah kutipan terkenal oleh Bill Gates yang juga menjadi benang merah dalam buku tersebut ialah "banking is necessary, banks are not". Masyarakat tidak membutuhkan kantor fisik bank, melainkan aktivitas perbankan.

King membagi perjalanan transformasi industri perbankan menjadi empat fase. Pertama, Bank 1.0 ialah bank yang menjalankan fungsi dasar perbankan, yakni layanan simpan pinjam yang mensyaratkan perjumpaan fisik antara pihak bank dan nasabah. Kedua, Bank 2.0 yakni bank membangun jaringan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang memungkinkan nasabah untuk menjalankan sejumlah transaksi perbankan tanpa harus bertatap muka dengan petugas bank.

Ketiga, Bank 3.0 ditandai dengan dimulainya era internet banking dan mobile banking sehingga aktivitas perbankan bisa dilakukan dari manapun dan kapanpun. Keempat, Bank 4.0 terjadi saat bank mampu memfasilitasi layanan perbankan di luar jalur milik perbankan.

Pada fase terakhir, bank dituntut untuk mengembangkan sebuah kecakapan baru yang belum pernah mereka jalankan sebelumnya. Aktivitas perbankan bukan lagi sekedar penyimpanan dana nasabah, penyaluran kredit, dan transaksi pembayaran yang dilakukan dalam ekosistem perbankan itu sendiri. Lebih dari itu, sinergitas dengan korporasi non bank seperti perusahaan teknologi (big tech company) akan menjadi keniscayaan yang tak terelakkan. Misalnya, konektivitas perbankan dengan voice smart assistant, seperti Alexa, Google, dan Siri yang siaga 24 jam 7 hari untuk melakukan transaksi perbankan.

Aksi akuisisi

Meskipun bank digital adalah kenormalan baru, namun tren ini belum bisa dicicipi semua bank. Layanan ini baru diperuntukkan bagi perbankan yang masuk kategori minimal BUKU II (kepemilikan modal inti minimal Rp 1 triliun). Meskipun dimungkinkan secara ketentuan, namun kemampuan finansial sebagian besar bank BUKU II untuk melakukan perubahan secara organik masih diragukan.

Situasi ini secara tidak langsung seolah memaksa bank kecil sekelas BUKU I dan BUKU II untuk melibatkan investor baru dalam melakukan transformasi. Akibatnya, aksi akuisisi bank kecil kemungkinan besar bakal marak di masa depan.

Selain Bank Royal, terdapat beberapa aksi akuisisi bank kecil lain yang sempat menyita perhatian pelaku industri jasa keuangan. Sebut saja akuisisi Bank Ina Perdana oleh Grup Salim, serta Bank Artos oleh Jerry Ng dan Patrick Walujo. Sejumlah media menyebut kedua bank tersebut digadang-gadang akan menjadi bank digital menyusul Bank Royal.

Pada tataran pragmatis, aksi akuisisi dan transformasi bank kecil menuju bank digital bukanlah upaya mengikuti tren semata. Langkah ini seharusnya dipandang sebagai usaha penguatan kinerja bank kecil yang cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan bertransformasi menjadi bank digital, bank kecil seakan menegaskan opsi untuk berubah daripada punah.

Penulis : Remon Samora

Analis Bank Indonesia Provinsi Papua Barat



TERBARU

[X]
×