kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45858,94   -4,22   -0.49%
  • EMAS820.000 -10,87%
  • RD.SAHAM -1.01%
  • RD.CAMPURAN -0.38%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Kesehatan Garuda

oleh Barly Halim Noe - Managing Editor


Kamis, 27 Mei 2021 / 09:15 WIB
Kesehatan Garuda
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Garuda Indonesia Tbk masih terjebak dalam pusaran turbulensi keuangan. Beratnya beban utang, tingginya argo biaya yang terus berjalan di saat pemasukan sedang seret, menyebabkan kondisi kesehatan keuangan maskapai udara nasional ini memburuk.

Per Mei 2021, misalnya, total utang Garuda mencapai lebih dari Rp 140 triliun, dengan Rp 70 triliun merupakan utang jangka pendek. Alih-alih berkurang, kewajiban Garuda justru berpotensi bertambah terus Rp 1 triliun per bulan.

Di sisi lain, kelesuan industri penerbangan akibat pembatasan mobilitas manusia selama pandemi Covid-19, nyaris menutup keran pendapatan semua maskapai udara, termasuk Garuda. Penghasilan bulanan Garuda, semisal, ambruk dari kisaran US$ 150 juta-US$ 200 juta menjadi hanya sekitar US$ 50 juta.

Tekanan efek pandemi Covid-19 ini jelas memperberat Garuda yang juga masih harus berjibaku dengan sejumlah persoalan warisan masa lalu yang belum tuntas sampai kini. Mulai dari dugaan korupsi pengadaan belasan armada pesawat udara, hingga salah urus pengelolaan.

Memang sejumlah upaya penyehatan Garuda sudah dirintis. Entah itu berupa injeksi modal dari negara maupun pemangkasan jumlah pegawai. Toh, berbagai ikhtiar tadi belum memberi titik terang bagi kelangsungan hidup Garuda.

Padahal sebagai maskapai udara nasional (flag carrier), Garuda juga dituntut memiliki citra baik di mata konsumen, investor maupun kreditur. Bagaimana bisa menjaga citra baik jika keuangannya berdarah-darah.

Nah, problem keuangan Garuda harus menjadi perhatian bersama dan segera dicarikan solusinya. Selain menjaga mutu pelayanan, kesehatan keuangannya berperan besar bagi pemenuhan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.

Ingat, ya, secara umum, kehadiran maskapai udara sangat vital bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Jasa penerbangan merupakan sarana konektivitas antar daerah.

Lebih jauh lagi, industri penerbangan tidak bisa hanya dipandang sebagai sarana memindahkan orang dari satu pulau ke pulau lain. Ia juga mengangkut muatan misi ekonomi serta pemerataan pendapatan dan mendistribusikan aset yang menumpuk di Jawa ke penjuru Tanah Air.

Peran vital industri penerbangan itu pula yang menjadikannya memiliki posisi krusial bagi agenda pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19. Dus, jangan sampai keterpurukan maskapai udara dalam negeri menyebabkan ekonomi yang siap take off harus kandas lagi.

Penulis : Barly Halim Noe

Managing Editor

 




TERBARU
Kontan Academy
Panduan Cepat Pendalaman Strategic Thinking Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 2

[X]
×