kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Ketua Harian Aftech: Fintech nakal, jangan cuma diblokir, seharusnya dipidana


Selasa, 08 Januari 2019 / 15:14 WIB

Ketua Harian Aftech: Fintech nakal, jangan cuma diblokir, seharusnya dipidana

KONTAN.CO.ID - OJK tidak tinggal diam melihat platform pinjaman online yang beroperasi secara ilegal. OJK, dengan bantuan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) sudah memblokir situs-situs yang menawarkan pinjaman daring ilegal.

Tapi, konsumen yang jadi korban penagihan dengan cara-cara tidak beradab terlanjur berjatuhan. Padahal, Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) sudah memiliki tata cara penagihan yang memperlakukan konsumen dengan layak.

Lalu, kenapa hal-hal buruk masih terjadi? Ketua Harian Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Kuseryansyah menguraikannya pada wartawan Tabloid KONTAN Ragil Nugroho, Rabu (14/11). Berikut nukilannya:

KONTAN: Kenapa bisnis pinjaman online bisa tumbuh subur di Indonesia?
KUSERYANSYAH:
Semangat P2P lending untuk mengakomodir orang-orang yang unbanked. Mereka adalah orang-orang yang menurut bank tidak layak namun bisnisnya feasible.

Prinsipnya kami menambah, bukan mengambil ceruk pasar. Apalagi menurut data Bank Dunia terbaru, gap pendanaan kredit di Indonesia yang tidak bisa didanai bank pada 2017 mencapai Rp 1.000 triliun. Angka ini tiap tahun segitu. Artinya, dengan bunga bank 7% hingga 10%, potensi ini belum tergarap.

Di sini lah peran dari P2P lending. Bayangkan, hingga akhir 2018 nanti, P2P lending diperkirakan menyalurkan pinjaman total mencapai Rp 20 triliun, yang diakumulasi sejak Desember 2016. Sampai akhir 2017 lalu baru Rp 3 triliun. Ini berarti, selama 2018 ada penambahan Rp 17 triliun.

Mengapa bisa begitu tinggi pertumbuhannya? Pertama, pasarnya besar. Kedua, customer experience. Filosofi pertumbuhan fintech di Indonesia berbeda dengan negara lain. Kalau di negara lain, pendorongnya lebih karena user experience. Layanan pengajuan pinjaman ke bank kan relatif lama, sedangkan lewat fintech sederhana dan cepat.

KONTAN: Padahal bunganya tinggi, kok, tetap bisa berkembang sangat pesat?
KUSERYANSYAH:
Fintech, kan ada beberapa model bisnis. Ada yang pinjaman konsumtif, ada juga yang produktif. Saat ini, jumlah pinjaman produktif sebenarnya lebih besar.

Sedang yang konsumtif dibagi dua, pertama, pay day loan dengan tenor 14 hari maksimum 28 hari. Kedua, sistem pay later. Misalnya, di platform pemesanan tiket pesawat dan hotel Traveloka ada fitur pay later.

Justru yang ramai sekarang pay day loan. Pasar di Indonesia mengalami pengalaman baru yang dulu tidak pernah ada. Dulu, pinjam kan ke bank atau ke inang-inang (rentenir). Sekarang, ada platform online yang tumbuh subur di negara kita karena memang ada kebutuhan di masyarakat.

Makanya, jangan terburu-buru mengkritik pay day loan, karena sewaktu-waktu kita butuh dan kehadiran mereka bisa membantu. Contohnya, ada kebutuhan mudik lantaran ada musibah.

Kebutuhan dana mendesak, sedangkan uang tidak ada dan belum gajian. Kehadiran platform ini jadi solusi karena cepat dan tidak merepotkan orang lain. Bisa masuk aplikasi hari ini, maka sore pun bisa cair. Jadi lihat manfaatnya.

KONTAN: Masalahnya, pertumbuhan yang pesat itu dibarengi banyak kasus penagihan yang tidak patut. Kenapa bisa sampai terjadi?
 


Reporter: Ragil Nugroho
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0462 || diagnostic_web = 0.2948

Close [X]
×