kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Kolesterol Berita


Rabu, 09 Desember 2020 / 05:10 WIB
Kolesterol Berita
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Selama masa pandemik ini, apakah Anda memperhatikan ada yang berubah di dunia media? Ada begitu banyak berita berseliweran, sampai mungkin Anda bingung mencernanya.

Kalau diibaratkan makanan, berita-berita yang berseliweran baik lewat media mainstream atau pun sosial media, bagaikan "makanan dalam piring" yang makin susah kita kunyah. Sehingga susah juga untuk bisa kita cerna dengan baik.

Kadang isu dalam berita-berita itu begitu "gurih" dan menarik emosi, bak makanan berkolesterol. Pernahkah Anda melihat makanan-makanan berkolesterol tinggi, lalu sudah mulai pusing atau tegang di belakang leher tanpa menyentuhnya? Berita-berita menjadi "makanan yang terlalu banyak lemak", ada begitu banyak kalimat yang berulang-ulang tampil. Celakanya seringkali muncul tanpa konteks dan kedalaman investigasi, hanya menarik emosi para pembaca atau penontonnya.

Tak heran kalau para pembaca atau penonton menjadi semakin pusing melihatnya. Tapi tujuan banyak produsen berita cuma satu, yaitu menjadi trending di dunia maya. Maklumlah model bisnis di dunia online sekarang ini hanya mengandalkan dari popularitasnya di mesin pencari Google.

Para pesohor dan pakar pun tak sabar hanya menjadi narasumber di televisi, koran, atau media mainstream. Mereka berbondong-bondong membuka channel YouTube sendiri. Mereka juga membuat analisis sendiri atau mewawancarai para pesohor atau pakar-pakar lainnya.

Model iklan dalam YouTube memang sangat memungkinkan untuk setiap orang mendapatkan aliran pendapatan, hanya dengan mengandalkan popularitas video produksinya.Ini semua tentu membuat semakin banyak berita-berita "berkolesterol" yang berseliweran.

Repotnya, sekarang ini semua orang ingin berbicara dan didengar. Banyak pembawa pesan juga tak peduli melihat pembacanya sudah "sembelit", karena saking sulitnya mencerna berita.

Indonesia sebenarnya tak akan kekurangan isu dan berita. Ada begitu banyak berita yang penting, bahkan menurut saya ada banyak berita penting jadi terlewatkan berkat berita "gurih berkolesterol" itu.

Bagi kami para jurnalis, melewatkan berita-berita itu sungguh menjadi dilema. Ibarat di rumah makan Padang, belum sempat kami mengunyah tuntas makanan di satu piring, sudah berdatangan piring-piring lain yang juga perlu untuk cepat dikunyah sebelum menjadi makanan basi.

Penulis : Djumyati Partawidjaya

Redaktur Pelaksana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×