kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kompromi dua logika transportasi


Minggu, 20 Januari 2019 / 09:19 WIB

Kompromi dua logika transportasi

Ada dua logika transportasi belakangan ini. Logika pertama memasyarakatkan motor-mobil dan memotormobilkan masyarakat. Dari logika ini motor-mobil disosialisasikan, masyarakat diharapkan memakai motor-mobil dalam aktivitasnya. Banyak manfaat diperoleh dengan adanya kendaraan bermesin.

Kota adalah daerah pertama yang terpapar motor-mobil sejalan dengan pertumbuhan urbanisasi bersamaan juga muncul hunian, perkantoran, pasar dan otomatis infrastruktur jalan. Kota makin padat, hiperaktivitas kendaraan dan orang tak terelakkan. Inilah janin kemacetan.

Logika kedua, memasyarakatkan transportasi massal dan membuat masyarakat menggunakan transportasi massal. Di Jabodetabek kemacetan mengakibatkan kerugian pertahun Rp 65 triliun. Jika ditambah kota lain jumlah itu bisa membengkak.

Sosialisasi transportasi massal dimulai dengan bus way. Termasuk bus pengumpan dari perumahan pinggiran Jakarta. Ke depan mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). Peningkatan kereta komuter jarak dekat. Banyak keuntungan transportasi masal, dari daya angkut, kecepatan dan ketepatan waktu perjalanan, mengurangi pergerakan jumlah kendaraan, termasuk menurunkan polusi dan BBM, biaya lebih murah. Belum lagi perkembangan transit oriented development (TOD).

Logika transportasi pertama menuntut manfaat sebesar-besarnya dari beli-pakai kendaraan. Buat industri kendaraan dan pembiayaan, pertumbuhan beli-pakai ini sangat diharapkan. Slogan beli - kendarai - melaju di jalan, menuntut lalu lintas tidak boleh macet. Langkah memperlebar jalan, membuat underpass, jalan layang, jalan tol, tol susun ditempuh.

Tapi, tuntutan seperti inipun mempunyai batas. Lahan minim dan alih fungsi ruang tidak mudah. Harapan beli-pakai kendaraan tanpa macet mulai membentur kenyataan. Pada satu titik kemacetan parah terjadi. Kondisi ini mengkhianati logika memotormobilkan masyarakat. Aktivitas masyarakat yang mestinya bisa lebih lancar justru sebaliknya terjadi.

Tidak ada cara lain kompromi harus dilakukan. Logika pertama memotormobilkan masyarakat harus dicangkokkan pada logika kedua. Teorinya mudah praktiknya susah, karena kontradiksi kedua logika tersebut. Orang beli kendaraan tentu untuk dipakai semaksimal dan sefleksibel mungkin bukan untuk disimpan di garasi. Mendorong masyarakat menggunakan transportasi masal, mendegradasikan logika pertama itu.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×