kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Korona di Bursa

oleh Djumyati Partawidjaya - Redaktur Pelaksana


Kamis, 12 Maret 2020 / 12:22 WIB
Korona di Bursa
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Ada yang mengatakan lebih baik menebak dalamnya lautan daripada menebak dalamnya isi hati orang. Tapi sayangnya untuk menjadi politisi atau pengusaha yang sukses, kita harus bisa menebak keinginan stakeholder atau konsumen yang ingin ia sasar.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk mencari tahu keinginan orang-orang. Namun mendapatkan suara untuk para politisi atau demand untuk para pengusaha, mau tidak mau harus bisa membaca keinginan pasar.

Bahkan di era post truth sekarang ini, para politisi sukses dan populer adalah orang-orang yang mampu menciptakan keinginan baru di stakeholder-nya. Sayangnya masih belum ada data yang jelas tentang pemanfaatan post truth di kalangan pengusaha.

Mungkin cara paling murah dan mudah yang dilakukan oleh para pengusaha dan investor untuk melihat sentimen yang terjadi di dunia bisnis dan investasi adalah melihat pergerakan indeks harga saham di pasar modal. Walau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum bisa dikatakan indikator yang sempurna, pergerakannya yang instan, membuat banyak orang melihat turun naiknya IHSG sebagai indikator sentimen pasar.

Kasus merebaknya virus korona (Covid-19) bisa menjadi contoh. Pemerintah selama berhari-hari sempat tidak mengungkapkan kasus Covid-19 di Indonesia. Maka tak heran begitu Jokowi mengumumkan 2 suspect korona di Senin 2 Maret, IHSG langsung amblas dari 5.452 menjadi 5.361.

Senin berikutnya di 9 Maret pengumuman pemerintah tentang tambahan suspect korona menjadi total 27 orang membuat IHSG amblas bertambah dalam. IHSG meluncur turun hampir 7%, menjadi 5.136, terendah dalam 4 tahun terakhir.

Bahkan saham BCA yang selama ini menjadi favorit banyak investor karena selalu naik meski "pasar tengah diterpa badai", ikut terkena imbas. Walau turun tidak sedalam IHSG, saham BCA yang sempat diperdagangkan di Rp 34.000 melorot ke kisaran Rp 28.000 di Senin kelabu kemarin.

Apakah setiap tambahan kasus korona akan memperburuk sentimen? Padahal kemungkinan besar suspect korona masih terus bertambah. Selain berbenah sistem kesehatan, saya rasa pemerintah juga harus terus membangun kampanye positif. Karena saling menyalahkan dan gosip tak akan bisa mengalahkan korona. Semoga merebaknya wabah korona bisa jadi cambuk membuat kita makin baik.

Penulis : Djumyati Partawidjaja

Redaktur Pelaksana





Close [X]
×