kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kuliner yang berperadaban tinggi


Selasa, 23 Juli 2019 / 09:00 WIB

Kuliner yang berperadaban tinggi


Perjumpaan dua tokoh sentral pada Pilpres 2019, Joko Widodo dan Prabowo Subianto belum lama ini sudah patut mendapat apresiasi. Sebagai ucapan syukur atas perjumpaan itu, semakin bermakna dengan diakhiri makan siang bersama. Hal ini mengingatkan kita akan tradisi luhur di Indonesia akan ucapan syukur atas suatu hal dengan mengadakan makan bersama. Di Jawa dikenal dengan bancakan, di Bali namanya adalah megibung dan di daerah lainnya memiliki nama yang berbeda-beda. Tetapi maknanya sama yaitu ucapan syukur dengan makan bersama.

Situasi serupa tampak pada perjumpaan Jokowi dan Prabowo pada Sabtu (13/7). Menu tradisional, salah satunya sate, dan jajanan tradisional, menjadi hidangan yang disantap di pertemuan makan bersama yang bersejarah itu. Di ranah ini, patut menjadi cerminan pada kehidupan sehari-hari, dialog dan solusi bisa dilakukan secara berbudaya di meja makan.

Tradisi makan bersama, aneka ragam bahan pangan dan cita rasa kuliner Nusantara yang beragam, menjadikan makanan Nusantara sebagai elemen budaya yang penting di negeri ini. Untungnya fakta itu diserap oleh negara dengan mengidentifikasi kuliner Nusantara sebagai salah satu bagian penting dari 14 industri kreatif.

Semasa dimensi ekonomi kreatif di bawah satu payung dengan Kementerian Pariwisata pada kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), telah diidentifikasi 30 ikon kuliner yang diperkenalkan kepada masyarakat internasional. Daftar 30 ikon tersebut adalah Ayam Panggang Bumbu Rujak Yogyakarta, Gado-gado Jakarta, Nasi Goreng Kampung, Serabi Bandung, Sarikayo Minangkabau, Es Dawet Ayu Banjarnegara, Urap Sayuran Yogyakarta, Sayur Nangka Kapau, Lumpia Semarang, Nagasari Yogyakarta, Kue Lumpur Jakarta, Soto Ayam Lamongan, Rawon Surabaya, Asinan Jakarta, Sate Ayam Madura, Sate Maranggi Purwakarta.

Ada pula Klappertaart Manado, Tahu Telur Surabaya, Sate Lilit Bali, Rendang Padang, Orak-arik Buncis Solo, Pindang Patin Palembang, Asam Padeh Tongkol Padang. Nasi Liwet Solo, Es Bir Pletok Jakarta, Kolak Pisang Ubi Bandung, Ayam Goreng Lengkuas Bandung, Laksa Bogor, Kunyit Asam Solo, serta Tumpeng juga masuk daftar tersebut.

Dari 30 ikon kuliner yang telah terpilih, tumpeng ditetapkan sebagai ikon kuliner nasional. Hal ini dikarenakan tumpeng yang berupa nasi gurih berbentuk kerucut dapat ditambah dengan berbagai macam makanan pendamping sehingga tidak menutup kemungkinan ikon kuliner lainnya disajikan bersama tumpeng. Ikon kuliner sendiri ditetapkan berdasarkan tiga kriteria. Yakni dari ketersediaan bahan baku yang mudah didapat, lantas kuliner tersebut telah dikenal oleh masyarakat luas, dan yang terakhir adalah ada pelaku profesional di kuliner tersebut.

Sementara itu, survei terhadap 100 orang di seluruh wilayah Indonesia oleh Omar Niode Foundation diperoleh kesimpulan bahwa jenis makanan yang paling disukai masyarakat Indonesia adalah gado-gado, gudeg dan empek-empek. Selain itu, minuman yang paling digemari orang kita adalah cendol, wedang jahe dan bajigur. Sedangkan untuk kudapan atau camilan yang paling disukai adalah martabak.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0010 || diagnostic_web = 0.1664

Close [X]
×