kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kurs Nyawa ala Korona

oleh Hasbi Maulana - Managing Editor


Kamis, 13 Februari 2020 / 10:21 WIB
Kurs Nyawa ala Korona
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Korea Utara (Korut) belum tercatat dalam statistik WHO sebagai salah satu negara yang terjangkit virus korona meski tetangga sedarah mereka, Korea Selatan (Korsel), menjadi negara dengan kasus terbanyak kedua di luar China. Sampai tulisan ini naik cetak (12/2) jumlah pasien wabah virus bernama resmi Covid-19 di Korsel mencapai 28 orang.

Meski Korsel dan Korut berimpitan, memang tak mudah bagi penduduk di dua negara tersebut untuk saling melintasi perbatasan. Secara "natural" Korea Utara cukup terisolir dari kemungkinan mengimpor Covid-19 dari Korsel. Jadi, orang menganggap wajar-wajar saja sampai sekarang Korut belum tercantum di tabel negara terjangkit virus korona di luar China.

Tapi tidak demikian dengan Indonesia. Ibarat cuma berjarak sepelemparan tombak dari Singapura yang kini sedang berusaha menyembuhkan 47 pasien Covid-19, negeri tercinta ini juga belum masuk daftar terjangkit WHO. Padahal Malaysia, Thailand, Filipina, serta Australia yang terhitung dekat dengan Indonesia sudah masuk daftar mendebarkan tersebut.

Ada yang menganggap absennya Indonesia dari daftar tersebut sebagai anugerah, ada pula yang skeptis pragmatis curiga sistem pendataan pasien di Indonesia yang tidak akurat. Malah, sempat beredar pula kabar (telah dibantah pemerintah) bahwa Indonesia belum mampu mendeteksi korona.

Lepas dari statistik harian WHO itu, pengertian "korban" wabah tak lagi cuma hitungan nyawa melayang atau jumlah pasien yang tergolek di bangsal rumah sakit. Selain manusia, korban wabah mencakup pula dampak ekonomi.

Learnbonds.com menyajikan data dampak wabah virus yang berlangsung selama dua dekade terakhir. Meski mengalahkan wabah SARS pada 2003, jumlah korban nyawa korona saat ini baru sekitar 10% korban dari Ebola (11.323 jiwa) yang meledak pada 2013. Korban Covid-19 juga baru 6,15% dari korban Flu Babi H1N1 (18.138 nyawa) yang mewabah pada tahun 2009.

Meski begitu, kerugian ekonomi akibat korona menduduki posisi tertinggi. Di China saja diperkirakan nilai kerugian ekonomi akibat korona mencapai US$ 62 miliar. Sebagai pembanding, kerugian ekonomi akibat SARS "cuma" US$ 40 miliar dan Ebola US$ 53 miliar.

Jadi hikmah di balik musibah wabah yang berkecamuk saat ini: virus korona telah menunjukkan nilai kurs nyawa manusia terhadap dollar AS semakin mahal.

Penulis : Hasbi Maulana

Managing Edtior




TERBARU

Close [X]
×