Close
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.900
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS612.058 0,50%

Makna hijrah dan kejahatan korupsi

Rabu, 12 September 2018 / 13:59 WIB

Makna hijrah dan kejahatan korupsi



Tahun baru Islam 1440 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 11 September 2018. Hijrah secara bahasa bermakna berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau menjauhi sesuatu. Dalam sejarah Islam, Nabi disebutkan berhijrah atau pindah dari Mekkah ke Madinah demi menghindari kejahatan atau keburukan dari kaum Quraisy untuk memulai kehidupan baru. Nabi juga pernah mengatakan, orang yang berhijrah adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang Allah, yakni perbuatan jahat, buruk dan tercela, kemudian beralih pada perbuatan baik dan mulia.

Lebih dari sekadar merayakan pergantian tahun dalam bentuk seremonial, hijrah sesungguhnya membawa pesan perubahan. Nabi pindah ke Madinah sejatinya membawa harapan perubahan yang ketika di Mekkah sulit dilakukan karena tekanan, teror dan intimidasi yang dilakukan terhadap Nabi dan kaum muslim. Faktanya, ketika di Madinah, perubahan itu berhasil dilakukan secara gemilang dalam tempo lebih kurang sepuluh tahun.

Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah merupakan simbol yang menyiratkan harapan pada perubahan dari kondisi buruk kepada kondisi baik itu. Dalam konteks saat ini, semangat untuk perubahan tadi penting tidak hanya ditanamkan dalam pikiran, tetapi juga dalam tindakan nyata.

Korupsi, misalnya, merupakan problem besar yang hingga kini terus coba diberantas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, semakin gencar upaya ini, semakin keras juga perlawanan baliknya, dan semakin tidak jera atau takut para koruptor melakukan aksinya. Juga semakin banyak pihak yang ingin melemahkan bahkan menghancurkan KPK.

Korupsi di negeri ini masih marak. Ini misalnya tampak dari banyaknya operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK. Teranyar, OTT KPK terhadap 41 anggota DPRD Kota Malang beberapa waktu lalu yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut agama, korupsi sesungguhnya berakar dari hasrat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Dalam istilah Nabi, mereka itu seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang. Jika mereka diberi satu lembah berisi emas, mereka akan meminta lembah lain berisi emas juga. Inilah hasrat korupsi yang terus-menerus terproduksi, bagian dari budaya konsumerisme.

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya, Bayang-bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi (2011), menyebutkan hakikat dari budaya konsumerisme adalah memuat kegiatan konsumsi dengan makna simbolik tersendiri (prestise, status, kelas) dan dengan pola dan tempo pengaturan yang khas. Budaya konsumerisme adalah sebuah budaya konsumsi yang ditopang proses penciptaan diferensiasi terus-menerus lewat penggunaan objek komoditas. Sebuah budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangannya didorong logika hasrat dan keinginan ketimbang logika kebutuhan. Budaya konsumerisme adalah sebuah sistem self-production hasrat tanpa henti, pemenuhannya selalu melalui media komoditas.


TERBARU
MARKET
IHSG
-7,92
5.874,30
-0.13%
 
US/IDR
14.893
0,19
 
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web =

×