kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45754,18   -2,20   -0.29%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masa Depan Industri Manufaktur

oleh Elkana Timotius - Dosen Teknik Industri Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta


Senin, 07 September 2020 / 12:53 WIB
Masa Depan Industri Manufaktur
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Indonesia memiliki potensi sumber daya di industri manufaktur, perikanan, pariwisata, dan pertanian. Belum reda dampak perang dagang Amerika Serikat (AS0 - China di akhir tahun 2019 pada industri manufaktur, pandemi virus Covid-19 semakin memperparah krisis yang dialami sektor industri unggulan ini. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan krisis ini berakhir.

Produk dari industri manufaktur, yang 60% terletak di wilayah Jawa Barat, kebanyakan diperuntukkan untuk memenuhi permintaan pasar global. Bahan baku pun masih bergantung pasokan dari luar negeri alias impor. Akibat dari pandemi virus Covid-19 mengancam resesi, misalnya di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) yang 84% perekonomiannya bergantung pada industri manufaktur setempat.

Walau pandemi belum mereda namun industri manufaktur perlahan mulai bangkit. Ada industri yang kembali berproduksi normal, namun ada pula industri yang terkendala pasokan bahan baku dan rendahnya permintaan. Industri-industri dipaksa untuk mencari solusi, contohnya pabrik garmen yang sementara waktu memproduksi kebutuhan medis sesuai permintaan pasar.

Secara nasional, pemulihan industri tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang naik ke tingkat 50,8 pada bulan Agustus kemarin. Ini merupakan pencapaian tertinggi selama masa pandemi. Indikator kesehatan ekonomi sektor manufaktur didasarkan pada banyaknya pesanan baru, tingkat persediaan, hasil produksi, volume pengiriman, dan penyerapan tenaga kerja. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimis bahwa industri manufaktur akan semakin membaik di kuartal ketiga tahun ini (Kontan, 02/09).

Industri wajib mematuhi protokol kesehatan karena paling rentan menjadi klaster baru penularan virus Covid-19. Industri manufaktur perlu ditopang oleh sektor lainnya untuk mempercepat pemulihan. Nasibnya tergantung pada kebijakan dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan. Bagaimana membangun ketahanan industri untuk beradaptasi terhadap perubahan paska masa pandemi ?

Digitalisasi industri

Industri telah banyak berkembang pesat sejak abad 17. Generasi mesin uap menciptakan perubahan radikal terhadap sistem produksi di industri manufaktur. Selanjutnya di awal abad 19 tenaga listrik semakin menyempurnakannya. Teknologi komputer berbasis otomasi yang muncul di tahun 1960-an mengubah cara kerja di industri manufaktur. Teknologi informasi di dekade ini semakin membantu industri manufaktur melalui pengolahan data dan informasi yang menunjang sistem produksi.

Bila merujuk pada semangat revolusi industri 4.0, situasi bisnis global memang akan berubah dan semakin menantang. Istilah VUCA yang merupakan akronim dari Volatile (kelabilan), Uncertain (ketidakpastian), Complexity (kerumitan), dan Ambiguity (ketidakjelasan), mengingatkan industri untuk segera beradaptasi terhadap perubahan. Tantangan industri di masa depan adalah dinamika lingkungan yang berubah sangat cepat dan sulit untuk diprediksi.

Penerapan teknologi digital diyakini akan menjadi solusi bagi ketahanan industri manufaktur. Protokol kesehatan menunjukkan adanya batasan antara ruang maya dan ruang fisik, sehingga konsep Society 5.0 yang dikembangkan Jepang sesuai dengan tatanan kehidupan di kenormalan baru.

Digitalisasi industri berfokus pada manusia melalui sistem yang menghubungkan ruang maya dan ruang fisik dengan memanfaatkan big data untuk ditransformasikan menjadi kecerdasan buatan. Hal ini sejalan dengan program Making Indonesia 4.0 yang mendorong penggunaan teknologi untuk menurunkan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas.

Kementrian Perindustrian (Kemperin) terus mengajak industri manufaktur untuk memanfaatkan peluang dari industri 4.0 agar berdaya saing. Peran industri manufaktur dalam negeri sangat penting bagi kemajuan suatu negara. Industri tidak lagi diukur dari seberapa besarnya aset yang dimiliki tapi lebih pada kemampuannya memenuhi permintaan pasar. Peluang bagi industri untuk bertahan melalui inovasi yang dikembangkannya.

Terpadu dan terhubung

Banyak hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendukung ketahanan industri manufaktur nasional menghadapi pandemi saat ini.

Pertama, penyaluran kredit usaha dan keringanan skema pembayaran bisa menjadi solusi bagi para pelaku industri. Pemerintah pusat dan daerah perlu untuk saling berkoordinasi demi kelancaran rantai pasok bahan baku dan ketersediaan suku cadang kebutuhan industri.

Kedua, membentuk pola pikir Higher Order of Thinking Skills (HOTS) dengan berpikir kritis, logis, dan sistematis. Perilaku inovatif harus dibiasakan dari skala yang paling sederhana karena inovasi tidak dinilai berdasarkan kebaruannya namun besarnya manfaat yang diterima masyarakat luas.

Ketiga, memfasilitasi industri kecil dan menengah (IKM) untuk menjadi pemasok bagi industri besar lainnya. Beberapa stimulus yang diberikan pemerintah kepada industri semasa pandemi diharapkan dapat menghindarkan industri dari resesi. Praktik ini telah dijalankan oleh China saat awal menata perekonomiannya dengan memberdayakan industri-industri kecil di dalam negerinya. Kreativitas dan kemandirian industri terbukti bisa mengantisipasi berbagai risiko.

Memang tidak mudah untuk melalui masa pandemi ini. Kesulitan industri bukan hanya ancaman penyebaran virus Covid-19 tapi juga pada keseluruhan sistem di industrinya. Mulai dari pasokan bahan baku yang sebagian besar masih tergantung dari negara lain hingga distribusi produk yang terhambat kelancarannya.

Namun ke depannya, kondisi saat ini diyakini menjadi pembelajaran berharga bagi setiap industri untuk lebih gesit dan bersiap terhadap perubahan. Empat tahap revolusi industri tidak akan menggoyahkan industri manufaktur nasional bertahan menghadapi badai.

Penulis : Elkana Timotius

Dosen Teknik Industri Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta



TERBARU

[X]
×