kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Masih berat bilang daya beli membaik


Senin, 23 April 2018 / 17:56 WIB

Masih berat bilang daya beli membaik

Tanda pemulihan daya beli masyarakat disebut mulai tampak. Badan Pusat Statistik (BPS) bilang, inflasi inti tahun ke tahun pada Maret 2018 lalu mencapai 2,67%, meningkat dibanding periode sama di 2017 sebesar 2,58%.

Kenaikan inflasi inti tahunan ini merupakan yang pertama sejak awal tahun. Benarkah daya beli masyarakat bangkit lagi?

Penguatan inflasi inti bisa menjadi petunjuk peningkatan kemampuan pembelian di masyarakat. Soalnya, pergerakan inflasi inti tidak terpengaruh oleh naik-turun harga barang bergejolak, harga energi, dan harga yang diatur pemerintah. Perhitungan inflasi inti biasanya menggunakan barang-barang tahan lama.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, kenaikan inflasi inti tahunan pada Maret lalu sebagai pertanda baik bagi ekonomi. Dengan inflasi inti yang naik, bisa dikatakan, permintaan (demand) terlihat kembali.

Cuma, hasil survei Nikkei dan IHS Markit menunjukkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia ada di level 50,7 pada Maret lalu. Angka PMI di atas 50 sejatinya menunjukkan industri di negara kita masih berekspansi.

Tapi, dibanding indeks Februari yang di posisi 51,4, ekspansi Maret tak sebegitu kencang lagi. Perlambatan ekspansi terjadi di sisi output dan permintaan baru.

Kinerja ekspor kita pada Februari juga kurang menggembirakan. BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia selama Februari sebesar US$ 14,09 miliar, turun tipis dari Januari yang mencapai US$ 14,55 miliar.

Tapi, momentum untuk mengerek daya beli masyarakat lebih tinggi lagi ada di depan mata. Apalagi kalau bukan bulan puasa dan Lebaran. Meski begitu, perjalanan ke depan, bukan tanpa masalah.

Pelaku usaha punya banyak kekhawatiran menyongsong hari esok. Apa saja kecemasan utama pengusaha? Benarkah daya beli masyarakat mulai membaik?

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengungkapkannya kepada wartawan Tabloid KONTAN Lamgiat Siringoringo, Rabu (4/4).
Berikut nukilannya:

KONTAN: BPS menyebutkan, inflasi inti tahunan pada Maret lalu meningkat. Tanggapan para pelaku usaha?
HARIYADI:
Tentu bagi pengusaha, inflasi inti yang membaik merupakan kabar bagus. Hanya, inflasi yang rendah akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik.

Pemerintah menargetkan inflasi tahun ini di bawah 4%. Jadi, di awal tahun, inflasi memang tidak terlalu bergejolak. Naik tipis atau turun tipis. Sepanjang Pemerintahan Jokowi, inflasi memang terkendali.

KONTAN: Dengan inflasi inti yang meningkat, apakah berarti daya beli masyarakat benar mulai membaik?
HARIYADI:
Tidak bisa dikatakan, kalau inflasi inti meningkat, berarti daya beli masyarakat mulai membaik. Kalau dikatakan, ada potensi daya beli membaik, itu bisa.

Soalnya, dari kacamata pengusaha, masih berat untuk mengatakan kalau saat ini daya beli mulai membaik. Apalagi, daya beli kalangan menengah ke bawah.

Tetapi, daya beli untuk kalangan menengah ke atas memang mempunyai potensi kenaikan. Kalau untuk menengah ke atas, kan, ini masalah persepsi. Kalau memang mereka yakin, maka akan membeli. Beda dengan menengah ke bawah yang banyak faktor buat meningkatkan daya beli mereka.

KONTAN: Itu artinya, hingga akhir tahun nanti daya beli akan tetap seperti ini?
HARIYADI:
Kondisi saat ini semakin membuat pengusaha tertekan. Sebab, biaya produksi yang tinggi tak seimbang dengan daya beli masyarakat. Ujungnya, mau tidak mau harga barang akan tertahan.

Artinya, kan, memang inflasi akan terkendali. Namun, daya beli masyarakat akan tetap begitu saja. Sangat berat untuk menaikkan daya beli terutama dari kalangan menengah ke bawah.

KONTAN: Lalu, apa yang perlu pemerintah lakukan untuk memperbaiki daya beli menengah ke bawah?
HARIYADI:
Kalau untuk menengah ke bawah, memang cukup berat memperbaiki daya beli mereka. Tapi, itu bisa dilakukan dengan terus menambah lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat. Tak ada cara lain, harus mendatangkan investasi baru ke dalam negeri.

Pemerintah memang sudah dan terus bekerja untuk menciptakan investasi baru di tanah air. Cuma, masalah utama investasi saat ini ada di koordinasi, baik itu antarkementerian dan lembaga maupun antara pemerintah pusat dengan daerah.

Saat investor melakukan eksekusi, peraturan yang ada tak seperti waktu awal mereka masuk. Banyak aturan tidak konsisten yang menyulitkan investor untuk merealisasikan investasinya di Indonesia.

Selain itu, pemerintah harus mempertahankan investasi yang ada dengan aneka insentif dan peraturan yang konsisten. Banyak aturan yang tidak konsisten membuat pebisnis eksisting memilih hengkang.

Pemerintah memang terlihat berusaha untuk menaikkan iklim yang baik agar investasi asing mau masuk ke dalam negeri. Cuma, agak terhambat juga dengan kondisi global.

Sedangkan dari sisi kalangan menengah ke atas, kan, ini persoalan persepsi. Makanya, kalau Pemerintahan Jokowi menjalankan roda dengan baik, maka persepsi juga akan naik.


Reporter: Lamgiat Siringoringo
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0499 || diagnostic_web = 0.3358

Close [X]
×