kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45754,18   0,00   0.00%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masker

oleh Hendrika Yunapritta - Managing Editor


Rabu, 16 September 2020 / 09:47 WIB
Masker
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Masker jadi salah satu perangkat wajib selama pandemi korona ini. Terhitung sejak pertengahan Maret 2020 hingga sekarang, kampanye 3M yakni pakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dianggap jurus ampuh menghindari virus korona. Jika diingat, pada awal pandemi, harga masker medis melonjak tajam, barangnya langka. Belakangan, ketika dengan masker kain pun cukup untuk 3M, masalah terpecahkan.

Hanya saja, sekarang muncul temuan bahwa masker jenis scuba dan buff kurang efektif menangkal virus. Karena sifatnya melar dan tak berlapis, dua jenis masker ini hanya 5% efektif mencegah risiko terpapar virus korona. Kini PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) melakukan sosialisasi agar penumpang mereka memakai masker kain dua lapis atau masker medis.

Selama ini, masker scuba disukai karena harganya relatif murah dan enggak bikin sesak. Di toko online, masker scuba ditawarkan mulai Rp 800 per lembar. Di kaki lima, masker jenis ini juga banyak dijual. Kadang orang beli, untuk menghindari razia protokol kesehatan.

Soal masker ini memang susah-susah gampang. Ketika masker kain dipercaya bisa jadi substitusi untuk menghadapi pandemi, banyak pebisnis yang banting setir memproduksinya. Permintaan masker memang besar. Telunjuk.com menghitung, di awal pandemi, penjualan berbagai jenis masker dari tiga e-commerce besar Indonesia yakni Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak selama 10 hari mencapai Rp 652,9 juta. Tak peduli industri kecil maupun pabrikan besar, berlomba memproduksi masker kain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Gap, misalnya, termasuk Banana Republic, Old Navy, dan Athleta, dilaporkan mencatat keuntungan US$ 130 juta selama kuartal II 2020, berkat jualan masker.

Di dalam negeri, banyak UMKM beralih bikin masker kain. Nadya Amatullah Nizar, misalnya, pemilik Nadjani mengubah jualan koleksi Ramadhannya yang tak terjual jadi masker kain, mukena, dan celemek. Jualannya laris manis. Nadya tak sendiri. Anda bisa berselancar di dunia maya dan menemukan ratusan, mungkin ribuan, pengusaha yang bikin masker seperti dia.

Masalahnya, dari awal tidak ada standardisasi untuk masker kain seperti ini. Informasi seputar masker pun kurang. Makanya, dulu banyak orang pilih masker scuba.

Sembari menegakkan wajib masker, seharusnya pemerintah juga memberi informasi tentang masker yang layak pakai.

Penulis : Hendrika Yunapritta

Managing Editor


Tag

TERBARU

[X]
×